Senin, 08 April 2013

Analisis Puisi “Permintaan” Karya Muhammad Yamin



Analisis Puisi “Permintaan” Karya Muhammad Yamin

Permintaan
Muhammad Yamin
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Sebelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula tertabur
Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.
Juni 1921
  1. A.    Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya pada karya sastranya. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada bila tidak ada karya sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti(Junus, 1985:2).
Menurut strukturalisme, kajian sastra harus berpusat pada karya sastra itu sendiri, tanpa memperhatikan sastrawan sebagai pencipta dan pembaca sebagai penikmat. Analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Dalam pandangan struktural yang sebenarnya, tidak mungkin ada pembedaan bentuk dan isi. Bentuk diberi makna dalam kaitannya dengan isi. Isi diberi pencerahan oleh gejala bentuk tang terpadu dengannya(Teeuw, 1984: 132-136).
  1. 1.      Bentuk dan Struktur Puisi
  1. Perwajahan Puisi (Tipografi)
Ciri-ciri yang dapat dilihat sepintas dari bentuk puisi adalah perwajahannya. Perwajahan adalah pengaturan dan penulisan kata, larik, dan bait dalam puisi. Pada puisi konvensional, kata-katanya diatur dalam deret yang disebut larik dan baris. Setiap satu larik tidak selalu mencerminkan satu pernyataan. Larik dalam puisi tidak selalu dimulai dengan huruf besar dan diakhiri dengan titi (.). kumpulan pernyataan dalam puisi tidak membentuk paragraf, tetapi membentuk bait. Sebuah bait dalam puisi membentuk satu pokok pikiran. Pengaturan dalam bait-bait ini sudah berkurang atau sama sekali tidak ada puisi modern atau puisi kontemporer. Bahkan, puisi kontemporer tipografinya bisa membentuk suatu gambar. Orang menyebutnya sebagai puisi konkret.3
Permintaan
Muhammad Yamin
Lirik
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Sebelah timur pada pinggirku
Bait
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
Pada puisi ‘Permintaan’ karya Muhammad Yamin terdiri dari 4 bait dan 14 lirik dengan susunan 4-4-3-3.
  1. Diksi
Diksi adalah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang dengan sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata dalam puisi berhubungan erat dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Pemilihan kata akan mempengaruhi pemilihan makna dan keselarasan bunyi.
Dalam puisi ‘Permintaan’ karya Muhammad Yamin tertulis seperti dibawah ini:
  • Bait 1
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Kata terbitlah mengandung makna dramatisasi bahwa Muhammad Yamin merasakan rindu dengan tempat lahirnya, rindu yang tiba-tiba datang kepada dirinya.
  • Bait 2
Sebelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
Kata gerangan mengandung makna kesayangan, panggilan sayang dan hormat terhadap sesuatu. Bahwa Muhammad Yamin menyayangi dan menghormati tanah airnya, tempat kelahirannya.
  • Bait 3
Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula tertabur
Kata tertabur mengandung makna penegasan seperti terlahir, bahwa Muhammad Yamin benar-benar lahir sebagaimana yang ia jelaskan pada bait 1 dan 2.
  • Bait 4
Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.
Kata berkubur mengandung makna penegasan seperti mati, bahwa Muhammad Yamin menginginkan mati dan dikuburkan di tanah kelahirannya.
  1. Imaji
Imaji adalah kata atau kelompok kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi seperti, penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga; imaji suara(auditif), imaji penglihatan(visual), dan imaji rasa atau sentuh(taktil).
Permintaan
Muhammad Yamin
- imaji suara (auditif)
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
- imaji penglihatan (visual)
Sebelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
- imaji suara (auditif)
Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula tertabur
- imaji rasa atau sentuh (taktil)
Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.
  1. Kata Konkret
Kata konkret adalah kata-kata yang ditangkap dengan indra. Dengan kata konkret akan memungkinkan imaji muncul.
  • Bait 1
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Kata konkret yang terdapat pada puisi ‘Permintaan’ karya Muhammad Yamin, pada bait 1 yaitu ombak.
  • Bait 2
Sebelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku




  • Bait 3
Di mana laut debur-mendebur
Serta mendesir tiba di pasir
Di sanalah jiwaku, mula tertabur
  • Bait 4
Di mana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.
  1. Bahasa Figuratif (Majas)
Majas ialah bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek atau konotasi tertentu(Sudjito, 1986: 128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya makna(Waluyo, 1987: 83).
  • Bait 1
Mendengarkan ombak pada hampirku
Debar-mendebar kiri dan kanan
Melagukan nyanyi penuh santunan
Terbitlah rindu ke tempat lahirku
Terdapat majas personifikasi, ombak seakan-akan dapat bernyanyi.
  • Bait 2
Sebelah timur pada pinggirku
Diliputi langit berawan-awan
Kelihatan pulau penuh keheranan
Itulah gerangan tanah airku
Terdapat majas personifikasi, pulau yang seakan-akan seperti keheranan.



  1. Verifikasi (Rima, Ritme, dan Metrum)
    1. Rima
Ada sedikit perbedaan konsep rima dengan sajak. Sajak adalah persamaan bunyi pada akhir baris puisi, sedangkan rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, maupun akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope, (2) bentuk intern pola bunyi, dan (3) pengulangan kata atau ungkapan.
1)      Onomatope ialah tiruan terhadap bunyi. Dalam puisi, bunyi-bunyi ini memberikan warna suasana tertentu seperti yang diharapkan oleh penyair.
2)      Bentuk intern pola bunyi, yang dimaksud dengan bentuk internal ini adalah aliterasi, asonasi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi(kata), dan sebagainya.
3)      Pengulangan kata/ungkapan, pengulangan tidak hanya terbatas pada bunyi, namun mungkin kata-kata atau ungkapan. Boulton menyatakan bahwa pengulangan bunyi, kata, dan frasa memberikan efek intelektual dan efek magis yang murni(Waluyo, 1987: 93).
  1. Ritma dan Metrum
Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol jika puisi itu dibacakan. Ada ahli yang menyamakan ritma dengan metrum.
Rima pada puisi ‘Permintaan’ karya Muhammad Yamin’ belum dapat saya teliti, sedangkan sajaknya menggunakan sajak bebas.
  1. Struktur Batin Puisi
  1. Tema atau Makna
Karena bahasa berhubungan dengan makna puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Untuk puisi konvensional tiap kata-baris, bait, sampai keseluruhan puisi mempunyai makna. Tetapi mulai berkurang pada puisi modern/kontemporer.
Tema keseluruhan pada puisi ‘Permintaan’ karya Muhammad Yamin adalah kecintaan dan kerinduan penyair terhadap tanah kelahirannya.




  1. Rasa
Rasa dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat pada puisinya. Pengulangan tema dan rasa berkaitan erat dengan latar belakang sosial dan psikologis penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman psikologis dan sosiologis, serta pengetahuan.
*sekilas biografi Muhammad Yamin
Lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903, Muhammad Yamin mencintai sastra sejak muda. Dia menulis puisi, melalui mana dia tidak saja mengemukakan tanah air yang dicita-citakannya, melainkan juga mengekspresikan kecintaanya pada keindahan alam kampung halamannya. Puisi-puisinya berbicara juga tentang cinta, penggembala, dan cita-cita yang terasa jauh untuk digapai. Namun kebanyakan puisi awalnya melukiskan keindahan alam. Puisi-puisi awal Muhammad Yamin dihimpun dan dibicarakan oleh Armijn Pane dalam Sandjak-sandjak Muda Mr. Muhammad Yamin (1954). Istri Muhammad Yamin adalah Sitti Sundari Yamin Mertoadmojo, seorang puteri keturunan bangsawan Surakarta, Jawa Tengah, dinikahinya pada tahun 1937. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Dang Rahadian Sinayangsih Yamin, biasa dipanggil Dian. Dian menikahi Gusti Raden Ayu Retno Satuti, anak sulung Manggkunegoro VIII, sultan Surakarta, pada tahun 1969. Seorang anak keturunan bangsawan kembali ke istana bangsawan.
Adapun Muhammad Yamin, akan kembali ke istana yang lain. Setelah melewati jalan panjang yang terjal dan berliku, lelaki itu akhirnya tiba di batas akhir hayatnya. Muhammad Yamin sampai pada kata-katanya sendiri: setiap bintang sekali bercaya/ sadarlah sudah badanku ini/ inginan sampai, karena mulia (“Cita-cita”). Bintang sekali bercahaya, dan sang badan sadar bahwa keinginan sudah sampai di batas kemuliaan. Maka Muhammad Yamin pun tutup usia di Jakarta, 17 Oktober 1962. Puisinya yang berjudul “Permintaan” adalah semacam wasiat di mana dia minta dikuburkan:

Dimana ombak sembur-menyembur
Membasahi Barisan sebelah pesisir
Di sanalah hendaknya, aku berkubur.
Dia ingin dikubur di daerah Bukit Barisan, bukit di Sumatera Barat yang disebutkan Yamin berulangkali dalam puisi-puisinya. Maka dia dikebumikan di Talawi, sebuah kota kecamatan yang terletak 20 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat.
  1. Nada
Nada dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Ada penyair yang menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca.
Muhammad Yamin dalam puisinya yang berjudul ‘Permintaan’, seolah-olah ia berkomunikasi namun menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca karena pada puisinya ia mewasiatkan suatu hal kepada pembaca yang dirinya sendiripun telah meninggal dunia.
  1. Amanat atau Tujuan
Sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Dorongan ia sebelom menciptakan puisi mungkin berupa (1) dorongan untuk memuaskan nafsu seksual, (2) dorongan makan, (3) dorongan keamanan diri, (4) dorongan berkomunikasi, (5) dorongan untuk mengaktualisasi diri, dan (6) dorongan untuk berbakti baik kepada Tuhan maupun kepada manusia.
Amanat atau tujuan Muhammad Yamin mungkin telah jelas terlihat pada tema, rasa, dan nada. Ia memiliki dorongan berkomunikasi kepada pembaca atas tujuan ia membuat puisi yang berjudul ‘Permintaan’.

  1. Kesimpulan
Dari analisis bentuk dan isi di atas, dapat disimpulkan bahwa segi menarik puisi ‘Permintaan’ karya Muhammad Yamin ialah penyair sangat mengindahkan dan memuji tanah kelahirannya, ia benar-benar merindukan tanah kelahirannya, serta sangat bangga akan tanah kelahirannya sehingga ia menginginkan jika kelak ia mati haruslah ia dikuburkan di tanah kelahirannya. Puisi ini pun seolah-olah menjadi suatu wasiat kepada pembaca karena faktanya setelah menulis puisi ini si penyair tak lama kemudian meninggal dunia. Di dalamnya pun penyair seperti berkomunikasi memberikan informasi kepada pembaca tentang tanah kelahirannya dan tujuan serta keinginannya.
Muhammad Yamin termasuk pusi modern namun masih sedikit menggunakan kaidah-kaidah lama, dengan lirik dan bait yang disusun 4-4-3-3 serta sajaknya yang bebas a-b-b-a dan a-a-a. Penyair mampu menggunakan kata konkret dan imaji yang mudah dimengerti namun tetap indah dibaca dan dinikmati. Puisinya pun singkat tetapi memiliki makna keseluruhan yang kuat bahwa penyair sangat mencintai dan merindukan tanah kelahirannya.




Daftar Pustaka
D. Rahman, Jamal. 4 Nopember 2009. “Muhammad Yamin” dalam Bahasa Membangun Generasi Muda, Atau Generasi Muda Membangun Bahasa? Bercermin pada Muhammad Yamin 
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar