Senin, 22 April 2013

XI.1.5.1 Mengidentifikasi peristiwa, pelaku dan perwatakannya, dialog, dan konflik pada pementasan drama


 5.1 Mengidentifikasi peristiwa, pelaku dan perwatakannya, dialog, dan konflik pada pementasan drama

I. Drama memiliki dua aspek, yaitu aspek cerita dan aspek pementasan.
a. Aspek cerita
Aspek cerita mengungkapkan peristiwa atau kejadian yang dialami pelaku. Kadang-kadang
pada kesan itu tersirat pesan tertentu. Keterpaduan kesan dan pesan ini terangkum dalam
cerita yang dilukiskan dalam drama.
b. Aspek pementasan
Aspek pementasan drama dalam arti sesungguhnya ialah pertunjukan di atas panggung
berupa pementasan cerita tertentu oleh para pelaku. Pementasan ini didukung oleh
dekorasi panggung, tata lampu, tata musik dsb.

II. Drama memiliki bentuk yang bermacam-macam, yaitu:
1. Tragedi ialah drama duka yang menampilkan pelakunya terlibat dalam pertikaian serius
yang menimpanya sehingga menimbulkan takut, ngeri, menyedihkan sehingga
menimbulkan tumpuan rasa kasihan penonton.
2. Melodrama ialah lakon yang sangat sentimental dengan pementasan yang mendebarkan
dan mengharukan penggarapan alur dan lakon yang berlebihan sehingga sering penokohan
kurang diperhatikan.
3. Komedi ialah lakon ringan untuk menghibur namun berisikan sindiran halus. Para pelaku
berusaha menciptakan situasi yang menggelikan.
4. Force ialah pertunjukan jenaka yang mengutamakan kelucuan. Namun di dalamnya tidak
terdapat unsur sindiran. Para pelakunya berusaha berbuat kejenakaan tentang diri mereka
masing-masing.
5. Satire, kelucuan dalam hidup yang ditanggapi dengan kesungguhan biasanya digunakan
untuk melakukan kecaman/kritik terselubung.



III. Unsur-unsur/struktur pembangun drama
Kekhasan naskah drama dari karya sastra yang lain ialah adanya dialog, alur, dan episode. Dialog drama biasanya disusun dalam bentuk skenario (rencana lakon sandiwara secara terperinci).

A. Penokohan (pelaku dan perwatakan)
Penokohan atau perwatakan adalah keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama. Seorang tokoh bisa saja berwatak sabar, ramah, dan suka menolong. Sebaliknya, bisa saja tokoh lain berwatak pemberang, ringan tangan, dan sangat keji. Karakter ini diciptakan penulis lakon untuk diwujudkan oleh pemain (aktor) yang memerankan tokoh itu. Agar dapat mewujudkannya, pemain harus memahami benar karakter yang dikehendaki penulis lakon drama. Untuk itu, dia perlu menafsirkan, membanding-bandingkan, dan menyimpulkan watak tokoh yang akan diperankan, lalu mencoba-coba memerankannya. Hal ini harus dilakukan supaya penampilannya benar-benar seperti tokoh yang diperankan, tepat seperti tokoh sesungguhnya. Dalam meleburkan diri menjadi tokoh yang diperankannya pemain dibantu oleh penata rias, penata busana, dan akting. Misalnya, jika tokoh yang diperankannya orang tua yang sabar, wajahnya dihias dengan garis- garis hitam yang mengesankan keriput, rambutnya ditebari bedak hingga tampak memutih. Kalau tokoh itu orang desa yang sederhana, pakaiannya menyesuaikan, misalnya memakai kemeja agak lusuh, bersarung, bersandal, serta berkopiah. Gerakannya lambat-lambat dengan posisi badan agak membungkuk. Demikian pula kalau sedang berbicara, harus diupayakan bicaranya pelan dan (kalau bisa) suaranya agak serak. Kalau perlu, kadang-kadang dibuat terbatukbatuk. Unsur-unsur pendukung itu (tata rias, tata busana, dan akting) satu dan lain tidak bisa dipisahkan. Semuanya saling mendukung untuk membantu mewujudkan karakter tokoh seperti yang dikehendaki oleh penulis lakon drama.
  Pelaku dan Perwatakannya
Tokoh merupakan penggambaran dari berbagai karakter manusia yang dijumpai dalam hidup sehari-hari. Dilihat dari perannya, tokoh dibedakan atas tokoh utama yang memegang posisi sentral dan tokoh pendamping. Tokoh utama mengemban cita-cita atau amanat cerita yang hendak disampaikan kepada penonton, sehingga frekuensi kemunculannya diatas panggung akan lebih sering dibanding dengan tokoh lain. Tokoh utama juga dilukiskan secara lebih utuh, baik dimensi fisik, psikis, maupun sosialnya, tokoh ini disebut tokoh protagonis, sedangkan lawannya disebut tokoh antagonis. Untuk mendamaikan pertikaian kedua tokoh itu diperlukan tokoh tritagonis yang bersifat netral.

            Tingkatan tokoh pendamping:
1. Tokoh figuran yang berfungsi sebagai pelengkap latar suasana dan kehadiranya tidak begitu berpengaruh pada perkembangan alur cerita.
2. Pemain drama dikatakan berhasil apabila setiap tindakan, tutur kata dan gerak-geriknya selaras dan mempresentasikan watak tokoh yang diperankan.
3. Watak tokoh tidak hanya tergambar dari tindak tanduk, tetapi juga dari dialog, kostum, tata rias, dan keseluruhan yang ada dalam diri tokoh.

B. Dialog
Dialog merupakan percakapan antarpelaku drama yang mengungkapkan hal-hal atau peristiwa yang dipentaskan.Unsur pertama pementasan drama adalah melakukan akting dan dialog. Dialog tidak dapat dilakukan tanpa dasar atau asal bicara, tetapi harus didasarkan pada peran karakter, kecerdasan, pendidikan, keadaan fisik, pekerjaan, status sosial, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan tokoh yang diperankan.
Dilihat dari fungsinya, seorang ahli drama mengelompokkan 4 fungsi dialog, yaitu:
 a. Untuk mengemukakan persoalan.
 b. Untuk menjelaskan perihal tokoh  dan karakternya.
 c. Untuk menggerakkan alur/plot.
 d. Untuk membukakan fakta.

Jalan cerita lakon drama diwujudkan melalui dialog (dan gerak) yang dilakukan para pemain. Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menunjukkan alur lakon drama. Melalui dialog-dialog antarpemain inilah penonton dapat mengikuti cerita drama yang disaksikan. Bahkan bukan hanya itu, melalui dialog itu penonton dapat menangkap hal-hal yang tersirat di balik dialog para pemain. Oleh karena itu, dialog harus benar-benar dijiwai oleh para pemain sehingga sanggup menggambarkan suasana. Dialog juga harus berkembang mengikuti suasana konflik dalam tahap-tahap alur lakon drama.

B. Konflik
Konflik dalam pementasan tidak terlepas dari kehadiran tokoh yang bertentangan satu dengan lainnya. Dalam hal ini, konflik yang hadir dapat berupa pertentangan tokoh dengan dirinya sendiri, pertentangan dengan orang lain, bahkan konflik dengan alam sekitar atau pandangan tertentu. Pada segi pementasan drama, konflik akan lebih jelas terlihat dibandingkan dengan saat kita membaca naskahnya. Gerakan atau tindakan para tokoh, juga melalui dialog yang diucapkan dapat membentuk suatu peristiwa. Peristiwa ini berasal dari hal yang biasa sampai konflik yang memuncak. Hal yang patut diperhatikan adalah peristiwa konflik tidak terjadi begitu saja. Dalam hal ini, peristiwa yang satu akan mengakibatkan peristiwa yang lain. Peristiwa yang terjadi karena tindakan tokoh tersebut dikenal dengan motif.
Motif ini berhubungan langsung dengan alasan setiap tokoh mengambil tindakan tersebut. Motif dapat muncul dari berbagai sumber, antara lain sebagai berikut.
a. Kecenderungan-kecenderungan dasar (basic instinct) yang dimiliki manusia, misalnya kecenderungan agar dikenal untuk memperoleh suatu pengalaman tertentu.
b. Situasi yang melingkupi manusia, yaitu keadaan fisik dan keadaan sosial.
c. Interaksi sosial, yaitu rangsangan yang ditimbulkan karena hubungan sesama manusia.
d. Watak manusia itu sendiri, sifat-sifat intelektual, emosional, persepsi, resepsi, ekspresi, serta
sosial kulturalnya.
Dengan mengetahui motif, pembaca akan mendapat dasar yang lebih kuat dalam menginterpretasikan suatu laku atau suatu peristiwa dalam drama.

C. Tema
Tema merupakan gagasan pokok atau ide yang mendasari pembuatan sebuah drama. Tema drama digambarkan melalui rangkaian peristiwa. Rangkaian ini menjadi dasar alur cerita, tokoh-tokoh dengan perwatakannya, dan dialog yang diucapkannya. Tema dalam drama dikembangkan melalui alur, tokoh-tokoh dengan perwatakan yang memungkinkan konflik, dan dialog. Tema yang biasa diangkat dalam drama adalah masalah percintaan, kritik sosial, kemiskinan, kesenjangan sosial, penindasan, ketuhanan, keluarga yang retak, patriotisme, perikemanusiaan, dan renungan hidup.

D. Amanat
Seorang pengarang drama baik sadar atau tidak sadar akan menyampaikan amanat dalam karyanya. Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton melalui karyanya. Amanat ditentukan atau dicari sendiri oleh pembaca atau penonton. Setiap pembaca atau penonton dapat berbeda-beda dalam menafsirkan amanat. Amanat bersifat subjektif dan umum. Tema bersifat lugas, objektif, dan khusus. Amanat sebuah drama akan lebih mudah ditafsirkan jika drama itu dipentaskan. Amanat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Amanat drama selalu berhubungan dengan tema.
Contoh:
Drama Romeo dan Juliet bertema masalah percintaan yang berakhir dengan kematian. Berdasarkan tema, drama Romeo dan Juliet memiliki amanat sebagai berikut.
a. Meskipun manusia begitu cermat dan teliti merencanakan sesuatu, Tuhan jugalah yang menentukan segala yang terjadi.
b. Manusia tidak kuasa melawan garis nasib yang ditetapkan oleh Tuhan.
Amanat drama Romeo dan Juliet yang dipaparkan di atas adalah versi penulis. Amanat drama Romeo dan Juliet dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh penonton atau pembacanya.

E.  Alur
Alur ialah rangkaian cerita atau peristiwa yang menggerakkan jalan cerita dari awal (pengenalan), konflik, perumitan, klimaks, dan penyelesaian.

F. Episode ialah bagian pendek sebuah drama yang seakan-akan berdiri sendiri, tetapi tetap merupakan bagian alur utamanya.
G. Peristiwa
Cerita drama sebenarnya adalah memindahkan kehidupan sehari-hari ke atas panggung. Peristiwa-peristiwa yang  membangun cerita itu tidak berdiri sendiri, tetapi satu dengan yang lain saling berkaitan. Diantara peristiwa-peristiwa itu, ada peristiwa besar dan kecil. Ada peristiwa yang penting dan menjadi inti cerita ada juga yang tidak penting. Ditinjau dari kedudukan dan perannya ada peristiwa yang menjadi bagian dari fase eksposisi/paparan, konflik/pertikaian, komplikasi/perumitan, dan klimaks/puncak gawatan. Sebagai sebuah peristiwa yang nyata dan utuh, kita dapat mengidentifikasi apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana.
 
   H. Konflik yang Ada Dalam Drama
Cerita dalam drama tidak akan bergerak apabila semua tokoh memiliki watak, sikap, pandangan, dan harapan yang sama. Cerita bergerak karena muncul konflik yang dipicu oleh adanya perbedaan-perbedaan antar tokoh. Konflik tidak selalu terjadi secara eksternal, yaitu tokoh dengan tokoh yang lain, tetapi juga dapat terjadi antara tokoh dengan dirinya sendiri (konflik internal). Konflik juga bisa dialami tokoh dengan keadaan di sekelilingnya (konflik sosial) dan dengan kepercayaan/keyakinan hidupnya (konflik batin/moral).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar