Selasa, 23 April 2013

Zaim Yang Penyair Ke Istana Cerpen AA Navis



Zaim Yang Penyair Ke Istana
Cerpen AA Navis


Aku dapat undangan mengikuti suatu kongres di  Jakarta. Penginapan peserta di Hotel Indonesia. Hotel yang alu  kagumi pada awal didirikan 35 tahun yang lalu. Saat  kongres itulah aku baru bisa inapi. Temanku sekamar Zaim  namanya. Penyair  dari Madura. Aku belum melihat batang  hidungnya. Mungkin  sudah. Hanya karena belum kenal saja  aku  merasa belum ketemu dia.

Rupanya  pada setiap kongres yang  bertaraf  nasional, mestilah  dibuka oleh Presiden. Bila Presiden  tidak  bisa hadir,  maka pesertalah yang datang menghadap  ke  Istana. Aku termasuk salah seorang yang tidak bisa ikut  menghadadap oleh alasan tidak  memiliki syarat yang  pantas. Yaitu stelan jas dan dasi. Yah, apa boleh buatlah. Maka aku  pun tenang-tenang saja menerima sejarah hidup yang tidak  bisa ketemu Presiden.

Beberapa  saat menjelang tengah malam, ketika aku  lagi asyik  nonton acara musik simponi yang diantar Katamsi  di TVRI,  pintu kamar diketok orang. Seorang  laki-laki  yang sudah lewat masa mudanya berdiri di ambang pintu.  Rupanya dialah teman sekamarku, Zaim yang penyair dari Madura itu.

Katanya: "Ketika aku tahu bahwa Pak Dali jadi teman sekamarku, bukan main senang hatiku." Tapi setelah dia  membantingkan  bokongnya di kasur tidur, rasa  senangnya  tak kelihatan lagi. Dia murung.

"Minum dulu." kataku.

Dia  berdiri dan membuka freezer kecil di dekat  meja. Tapi freezer itu tidak ada isinya. "Kok sudah kosong?" katanya  seraya menatap dengan mata yang  seperti  menyesali karena menduga akulah yang telah menghabiskan isinya.

"Untuk  peserta undangan, memang dikosongkan  isinya." kataku.

Setelah  melihat isi teko pun sudah kosong dia ke kamar mandi. Agak lama juga. Ketika keluar eadaannya telah nyaman.  Aku kira dia minum air kran di sana. Setelah  membenahi tas bawaannya dan kembali membantingkan bokongnya  ke kasur, wajah murungnya terlihat lagi. Agak lama  kemudian, dia berbaring tanpa mengganti pakaian. Menelentang  lurus. Jari  jemari kedua tangannya saling berkaitan di atas  perutnya. Dan aku mengecilkan volume suara televisi.

"Tadi  panitia memberi tahu, besok pukul  sepuluh  kita sudah harus sampai di istana." katanya.

"Uh uh." aku mendengus mengiyakan.

"Tapi aku tidak bisa pergi."

"Kenapa?"

"Aku tidak punya jas."

"Kalau begitu kita sama."

"Tapi aku ingin pergi. Ingiiin sekali."

"Ke istananya atau ketemu presiden?"

"Dua-duanya."

Kami terdiam lagi. Dia terus menelentang di tempat tidur, dan saya terus nonton acara televisi.

"Kata Si Tarji, di Pasar Rumput ada dijual baju  bekas. Pagi-pagi aku sudah harus ke sana. Naik taksi supaya bisa keburu, katanya."

"Tentu." kataku seadanya.

Kami  sama diam lagi. Dia masih menelentang  di  tempat tidur dan aku masih terus nonton. Kemudian dia bangun  dan hilir mudik dari tempat tidur ke pintu. Tiap sebentar  dia menggaruk belakang kepalanya. Barangkali dia punya persoalan rumit yang ingin dia sampaikan. Kiraanku benar. Karena tak lama kemudian dia berkata seperti kepada diri sendiri: "Menurut  Tarji, sewa taksi ke sana pulang  pergi  sepuluh ribu.  Harga jas bekas, mungkin empat puluh ribu. Jas  itu bisa dijual lagi dua puluh lima ribu. Kata panitia, lumsum baru bisa dibayar pada hari terakhir. Celaka. Huhh.  Padahal aku  ingin sekali ketemu Presiden. Di istana lagi. Tak akan  ada kesempatan lain buat aku  bisa  ketemu  Presiden kalau tidak sekarang. Huhh."

Aku  maklum sudah pada ujung omonganya, dia mau  pinjam uang. Dan sebelum dia berkata lagi, aku katakan bahwa saya bisa  pinjamkan dia uang.Aku keluarkan dompetku  dan aku hitung  isinya.  "Kamu boleh pakai separoh."  Jumlah  yang separoh itu tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah.

Zaim  lalu melompat untuk memeluk aku,  sehingga  kursi yang  aku  duduki hampir terjungkal. "Terima  kasih,  Pak. Terima  kasih. Dua puluh lima ribu sudah cukup. aku  punya tiga puluh ribu. Jadi paslah."

Pagi-pagi Zaim sudah keluar. Aku santai-santai saja  ke ruang makan untuk sarapan. Semua peserta yang akan ke  istana sudah siap-siap dengan stelan jasnya. Seperti anggota MPR  yang akan disumpah layaknya. Padahal waktu  itu  baru lebih  sedikit pukul delapan. Ketika aku baru saja  mulai sarapan, seorang panitia mendekati. "Pak, cepat, Pak. Kita sudah harus berangkat pukul sembilan."

"Tapi aku tidak ikut." kataku.

"Tidak bisa, Pak. Tidak bisa. Nama Bapak sudah dikirim. Karena itu harus ikut, Pak."

"Aku tidak punya jas. Aku cuma punya baju batik."

"Waduh, Pak. Nanti bila ditanya sekuriti, repot,  Pak." katanya lagi.

Aku  meneruskan sarapanku. Seselesai sarapan aku  langsung ke kamar lagi demi menghindari umpatan panitia  kalau masih  melihat  aku. Tapi beberapa menit  kemudian   pintu kamarku saya diketok. Ketika aku membukanya, panitia  yang mengumpat itu berdiri di depanku dengan wajah yang gembira dan  mengatupkan  jari kedua tangannya ke  dada.  "Syukur, Pak. Syukur. Aku berhasil memperjuangkan Bapak."

Dalam waktu aku terbingung-bingung dia melanjutkan  setelah memandang ke kakiku. "Bapak punya sepatu, bukan?"

Aku mengangguk.

"Syukur, Pak. Syukur. Berkat perjuangan saya, Bapak sudah bisa ke istana ketemu Presiden. Tidak sembarang orang, lho,  yang bisa ke sana. Siap-siaplah, Pak. Kita  mau  berangkat."

"Jadi boleh pakai baju batik saja?" tanyaku.

"Itulah yang aku perjuangkan, Pak."

"Bagaimana caranya?"

"Aku bilang pada komandan sekuriti istana, bahwa banyak peserta  tidak bisa hadir, karena tidak punya jas.  Maklum banyak seninam, yang meski punya nama besar, tapi  miskin. Lalu  sekuriti  itu bilang: Boleh pakai baju  batik,  asal rapi dan pakai sepatu. Begitu, Pak, katanya."

Maka  berangkatlah  aku ke istana  untuk  pertama  kali seumur hidupku. Tapi aku tidak melihat batang hidung Zaim. Mungkin  dia  dengan  bus lain  yang  berjejer  banyak  di halaman hotel. Tapi mungkin saja aku tidak bisa melihatnya diantara sekian banyak orang yang sama pakai jas. Waktu di ruang  tunggu  istana, aku tidak juga melihat  Zaim.  Saya terlalu asyik melihat lukisan yang tergantung di  dinding. Hampir semua pelukis yang lukisannya ada di situ aku kenal namanya sejak lama.

Dan ketika semua peserta disuruh masuk ke ruang audiensi,  ternyata akulah satu-satunya peserta yang  mengenakan baju batik. Karena tahu diri tersebab tidak punya jas, aku ku masuk paling akhir dan duduk pun di kursi barisan  paling belakang. Di sebelahku Rosihan yang biasa dendi dengan stelan jasnya. Katanya: "Kalau mau masuk televisi  cari tempat duduk di depan. Bagusnya sebelah sini."

Aku  memandang ke deretan kursi bagian depan.  Yang  di sana para pejabat dan panitia. Tidak seorang pun orang sebangsa  aku. Di sisi sebelah kanan seperti yang  dikatakan Rosihan, juga diduduki oleh pejabat dan panitia yang  eselonnya lebih rendah.

Dan  Presiden, ketika menerima tanganku, sama  ramahnya seperti  kepada  orang-orang yang mengenakan  jas.  Bahkan aku rasa aku lebih. Karena Presiden menepuk-nepuk tanganku dengan tangan kirinya. Cara yang tidak dilakukannya kepada peserta lain.

"Istimewa  sekali  Presiden pada bung. Ada  apa?"  kata Rosihan setelah kami di luar ruangan itu.

Mana aku bisa tahu apa yang terkandung dalam hati  Presiden.  Lalu saya jawab saja sekenanya:  "Barangkali  Presiden  bersimpati  karena aku  satu-satunya  yang  memakai batik buatan dalam negeri. Atau...."

"Atau apa?"

"Mungkin  Presiden memberi isyarat pada ajudan:  Perhatikan betul orang ini."

"Isyarat yang baik, kalau begitu." kata Rosihan pula.

Hampir  tengah malam Zaim muncul di ambang pintu  kamar hotel. Wajahnya alangkah cerianya. Tangan kananku  digenggamnya  dengan kedua belah  tangannya, lalu diciumnya. Aku merasa rikuh sekali, selain karena tidak biasa juga  tidak suka  mendapat perlakuan seperti itu. Apalagi dari  sesama seniman.  Lalu katanya: "Berkat pertolongan Bapak,  terkabullah doa saya. Ketemu Presiden."

"Bagaimana dengan jasnya?" tanyaku tanpa tahu apa  yang harus aku katakan menyambut kegembiraannya.

"Tidak jadi aku jual, Pak. Ini jas keramat. Masa  dijual. Akan aku simpan baik-baik." katanya. Setelah diam  seketika dia berkata lagi. "Uang Bapak nanti aku bayar kalau lumsum sudah diterima. Boleh 'kan, Pak?"

Oleh  karena begitu kata Zaim, aku akan tidak bisa  keluar  hotel sampai kongres selesai dengan sisa uang  dalam kantong. Aku tidak menjawab. Namun dalam hatiku hanya bisa  berkata: "Zaim. Zaim."


Kayutanam, 6 Maret 1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar