Selasa, 23 April 2013

Rekayasa Sejarah Si Patai Cerpen AA Navis



Rekayasa Sejarah Si Patai
Cerpen AA Navis

Seorang anak  kecil  ingusan berlari ke halaman ketika mendengar  genderang dipalu di jalan raya. Peristiwa  yang jarang  terjadi. Anak kecil itu berlari  membawa  badannya yang buntal tanpa baju. Matanya bersinar-sinar  memandangi para marsose (pasukan seperti Kopasus sekarang) berpawai sambil memalu  genderang yang diiringi bunyi trompet bersuara lengking. Kepala anak kecil itu seperti  dihela magnit mengikuti pawai. Tapi demi  melihat serombongan  laki-laki tanpa baju yang wajah dan  tubuhnya berlumur  cat  hitam,  anak kecil itu  merasa  ngeri.  Dan ketika melihat sebuah kepala terpenggal pada ujung  tombak yang digoyang-goyang, hatinya kecut. Memekik-mekik dia memanggil ibunya waktu berlari kembali ke rumah. Tapi ibunya tidak  ada. Di pojok kamar anak kecil itu terduduk  dengan kedua dengkul menopang kepala. Terisak karena merasa tidak terlindung dari ketakutan. Kepala terpenggal di ujung tombak,  dengan rambut panjang yang bergelimang darah  kering  dan  mata yang memutih terbuka lebar, tak putus-putus  melintas dalam mata angan anak kecil yang masih ingusan itu. Lebih dirapatkannya kedua dengkulnya seperti hendak menyatukan seluruh tubuhnya.

Sampai lama bayangan kepala terpenggal di ujung tombak masih menimbulkan rasa ngeri pada dirinya. Ketika anak kecil itu telah menjadi ayah, peristiwa itu diceritakan  kepada  anaknya. Anak itu Si Dali namanya. Kemudian Si  Dali mengisahkannya kembali kepada seorang mahasiswa yang  mencari  hahan untuk skripsi kesarjanaan. Dan setelah  berbulan-bulan meneliti dengan menanyai banyak orang yang mengaku  mengenal peristiwa itu, hasilnya menjadi suatu  kisah sejarah resmi yang dipalsukan.


***


Pada ujung abad ke-19 sampai pada awal abad ke-20 desa Pauh di pinggir utara kota Padang, menjadi pelintasan  pedagang  yang  pulang-pergi dari pedalaman  Minangkabau  ke kota. Lama kelamaan desa itu menjadi sarang pelarian  dari tangkapan pemerintah. Baik yang  musuh politik maupun penjahat.  Rakyat menyebutnya sebagai sarang orang bagak  dan para pendekar. Aliran silat pendekar desa itu terkenal kemana-mana. Sehingga banyak orang berlajar ke sana. Dinamakan  sebagai  aliran Silat Pauh.  Kekuatannya  pada  kaki, menyepak, menerjang dan menungkai.

Polisi selalu was-was memasuki desa itu. Patroli tentera pun enggan. Banyak sudah korban di pihaknya.  Sedangkan musuh yang dicari tidak pernah dapat.

Seorang pendekar yang paling disegani, paling ditakuti, Si Patai namanya. Ilmunya banyak, pengikutnya pun  banyak. Menurut cerita yang tersebar,  pada masa itu Si Patai  sering keluar masuk kota. Tak seorang pun berani melapor kepada  pemerintah bila melihatnya. Karena setiap  ada  yang melapor, selalu saja rumah pelapor kena rampok malam harinya. Lambat laun, setiap terjadi peristiwa perampokan atau  pembunuhan,  dikatakan Si Patai jadi otaknya. Maka  Tuanku Laras selalu melapor kepada residen setiap  terjadi  peristiwa perampokan itu. Akhirnya Si Patai dinyatakan  musuh nomor satu yang paling dicari, hidup atau mati.

Kisah  sebenarnya yang terjadi, bahwa Si Patai  pernah ditangkap karena lawannya berkelahi terbunuh. Yang  terbunuh  itu  kebetulan anak Tuanku Laras  yang  kalap  karena judinya  kalah. Selama di penjara Si Patai sering  disiksa anak buah Tuanku Laras untuk melampiaskan dendamnya. Sebaliknya Si Patai banyak pula berguru berbagai ilmu pada sesama tahanan dari Bugis dan Banten. Ketika ilmunya  dirasa sudah  cukup, Si Patai meloloskan diri dari  penjara.  Dia bersembunyi di Pauh. Bergabung dengan mereka yang memusuhi pemerintah. Lambat laun Si Patai yang  menjadi  pemimpin. Setiap usaha  menangkapnya selalu gagal.


***


Pada  waktu sebelum kedatangan Si Patai, di Pauh  sudah ada seorang banci  bernama Patai. Nama aslinya  Ujang. Dengan  nama julukannya dia dipanggil Ujang Patai.  Pengecutnya bukan kepalang. Bila ada patroli tentera, dia  yang lebih dulu berhamburan lari. Terbirit-birit atau berpetai-petai  tahinya  diwaktu  lari.  Menurut  logat  desa  itu, tahinya  bapatai-patai. Sejak itulah dia  memperoleh  nama julukan Ujang Patai.

Nah,  karena nama dengan julukan yang sama  dari  kedua orang itu, bila ada patroli mencari Si Patai, semua  orang menunjuk  si  Ujang Patai orangnya. Maka selalu  dia  yang ditangkap  dan dibawa ke penjara. Tapi tak  lama  kemudian dia dilepaskan lagi, karena bukan dia yang dicari.

"Kamu  polisi goblok. Kamu disuruh tangkap  Si  Patai, tapi  orang banci yang kamu tangkap. Betul-betul  goblok." kata residen kepada komandan polisi yang salah tangkap.

Tuanku  Laras yang dendamnya belum terbalas,  menyuruh para Kepala Kampung membuat laporan setiap pencurian  atau  perampokan  dilakukan  oleh anak buah  Si  Patai.  Seorang Kepala Wijk (sama dengan Lurah di kota sekarang) yang jadi iparnya disuruhnya pula membuat  laporan yang sama. "Ada tidak ada perampokan, pokoknya  buat laporan." katanya.

Residen naik pitam. Sehingga sudah dua orang  komandan polisi diganti, namun perampokan tak kunjung terhenti  dan Si Patai tetap tak tertangkap. Maka tibalah suatu  waktu, pemerintah  mengeluarkan  peraturan  wajib  pajak   kepada rakyat.  Kepala Kampung dan Kepala Wijk  ditugaskan  memungutnya.  Rakyat  tentu saja tidak suka dan  kata  mereka: "Kita  tinggal  di kampung halaman kita  sendiri,  mengapa mesti  membayar pajak kepada Belanda yang  bukan   pemilik negeri  ini?" kata mereka. Kata Tuanku  Laras  mengancam Kepala  Kampung, jika tidak mampu  memungut  pajak,  akan dipecat.  "Sulitlah  itu.  Tuanku.  Semua  rakyat   sedang  marah." kata mereka yang terancam itu.

"Buat laporan, pajak yang telah terkumpul dirampok anak buah Si Patai." kata Tuanku Laras pula.

Di Tiku rakyat bersenjata parang menyerbu kantor polisi dan pos tentera. Di Lubuk Alung sejumlah laki-laki  berpakaian   serba  putih  sambil  menyerukan  "Allahu   Akbar" menyerbu sepasukan tentera yang sedang siap tembak. Hampir semua penyerbu mati dan terluka. Di Batusangkar,  ratusan  perempuan dan anak-anak ikut berdemonstrasi ke kantor kontelir.  Tentera yang mengawal melepaskan tembakan.  Banyak perempuan  dan anak-anak  mati dan terluka. Yang lain lari puntang-panting.  Tak seorang pun penduduk yang  menyangka bahwa tentera itu akan sampai hati membunuh perempuan  dan anak-anak. Perlawanan rakyat Pauh mirip seperti perang gerilya. Jika tentera berpatroli, rakyat seperti  tidak acuh saja. Yang  di ladang terus bekerja. Bila  berpapasan  di jalan,  mereka meletakkan ujung jarinya  seperti  prajurit        menghormat  pada  perwira. Kalau  jumlah  yang  berpatroli sedikit, ketika hendak kembali ke Padang, mereka  dihadang di pesawangan. Tapi yang paling sering ialah mereka merampoki rumah orang-orang kota yang bekerja sama dengan pemerintah  di tengah malam.

"Kalau tentera tidak mampu, kirim marsose 1), Tuan  Besar. Padang  tidak akan aman. kalau Si Patai tidak  tertangkap, Tuan  Besar." kata Tuanku Laras (sama dengan camat sekarang) ketika  menghadap  residen setelah menyampaikan laporan para Kepala Kampung di  wilayahnya. "Itu  sudah aku  pikirkan. Tapi itu bukan urusan  kamu. Mengerti?"  kata residen dengan suara keras karena  merasa diajari oleh bawahannya.

Meski dikasari, hati Tuanku Laras senang karena gagasannya menggunakan marsose untuk menangkap Si Patai  tercapai.


***

Akhirnya  keluar perintah dari Betawi,  supaya  marsose dikerahkan  menyerbu pengacau di desa Pauh.  Perintah  itu diteruskan residen pada komandan tentera dengan  tambahan: "Kalau Si Patai tidak berhasil kamu tangkap, itu  tandanya kamu komandan tidak becus. Aku  lapor ke Betawi. Tahu?"

Komandan tentera itu merasa jabatannya terancam. Suatu malam, dibawah pimpinannya sendiri, sepasukan marsose  memasuki  Pauh menjelang dini hari. Beberapa laki-laki  yang dapat  disergap langsung dibunuh. Bagi komandan itu  tidak penting artinya jiwa rakyat. Yang terpenting hanyalah  jabatannya  sebagai komandan. Ketika pagi datang mayat-mayat itu dikumpulkan di halaman mesjid. Seluruh penduduk  disuruh  mengenali mayat tersebut. Beberapa orang  menunjukkan salah  satu  mayat  itu Ujang Patai  namanya.  Bukan  main        leganya  hati komandan itu. Lalu dia memerintahkan  kepala Ujang Patai dipenggal untuk dibawa ke Padang sebagai bukti keberhasilan operasinya.

"Arak kepala itu keliling kota. Biar rakyat kapok melawan pemerintah." kata residen kepada komandan tentera itu.

Maka kepala yang terpenggal itu ditusuk pada ujung tombak. Pasukan marsose yang tubuhnya dilumur cat hitam mengarak  penggalan kepala itu berkeliling kota sambil  menari dan berteriak-teriak gembira, diiringi genderang yang  dipalu terus menerus. Semua rakyat keluar dari rumah masing-masing  melihat  arak-arakan itu. Mana yang  merasa  ngeri kembali lagi tergesa-gesa masuk ke rumahnya. Ada perempuan yang  jatuh pingsan demi melihatnya.    Tapi Tuanku  Laras yang kenal dengan Si Patai dan tahu bahwa kepala itu bukan kepala Si Patai, melapor kepada residen, bahwa  komandan tentera itu telah salah penggal.

"Biar saja. Pokoknya perintah Betawi sudah  dilaksanakan.  Habis perkara. Orang di Betawi toh tidak  akan  tahu mana Si Patai yang sebenarnya." kata residen.

"Tapi, Tuan Besar, apabila Paduka Tuan Besar di Betawi tahu  Si Patai yang sesunggunya belum mati, celaka  kita." kata Tuanku Laras.

"Bukan kita. Tapi kamu yang celaka." kata residen sambil menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya.

Oleh  laporan yang dibuat residen ke Betawi,  resmilah Si  Patai  dinyatakan mati. Sedangkan  tak  lama  kemudian Tuanku Laras, yang tahu persoalan yang sebenarnya, dipecat dengan  tuduhan penggelapan uang pajak. Tak lama  kemudian Tuanku  Laras  jatuh sakit. Kata orang sakit  muno.  Sakit orang  berkuasa  yang kehilangan jabatannya  secara  tiba-tiba. Sakit kehilangan harga diri.   

Untuk menghindari desas-desus salah bunuh itu, residen memerintahkan seluruh pegawainya, tidak lagi  membicarakan tokoh  yang bernama Si Patai. Sebuah koran secara  bersambung   mengisahkan  suksesnya  operasi  tentera   menumpas gerombolan  Si Patai. Sehingga lambat laun rakyat di  kota pun  percaya, bahwa penggalan kepala yang diarak  berkeliling  itu, betul-betul kepala Si Patai. Sebaliknya  rakyat yang  membenci Belanda menganggap bahwa kepala  yang  terpenggal itu, kepala seorang pahlawan bangsa.


***


Namun kisah Si Patai yang sebenarnya, benar-benar  berlain.  Hasil  penelitian calon sarjana  itu  berkesimpulan seperti yang ditulisnya dalam skripsinya.  

Bahwa demi melihat begitu banyak korban, anak-anak jadi yatim  dan   perempuan menjadi janda, para  penghulu  desa Pauh minta kepada Si Patai agar meninggalkan kampung untuk sementara. Sampai situasi aman. Karena menurut para  penghulu itu, melawan pemerintah yang bersenjata kuat,  hanyalah akan menambah kesengsaraan rakyat. Konon Si Patai  menyingkir  ke Teluk Kuantan. Dari sana dia  menyeberang  ke Semenanjung, yang kini bernama Malaysia. 

Namun dendam rakyat yang keluarganya terbunuh,  isteri-isteri  yang kehilangan suami, anak-anak  yang  kehilangan ayah, tidak hilang sama sekali oleh kekejaman operasi tentera yang mereka alami itu. Dua puluh tahun kemudian,  generasi yang lain melakukan pemberontakan lagi. Berbaringan dengan pemberontakan komunis tahun 1926. Namun mereka  pun masih dikalahkan. Dua puluh tahun pula setelah itu kembali rakyat  melawan. Perlawanan yang terakhir ini dalam  rangkaian perang kemerdekaan bangsa Indonesia yang tercinta.

Kemudian anak muda yang telah jadi sarjana itu  bertanya kepada Si Dali. "Yang jelas kisah sejarah itu dipalsukan, pak. Bagaimana meluruskannya?"    

Lama Si Dali termangu-mangu. Akhirnya katanya:  "Palsu tidaknya  sejarah lama, tidak akan merobah dunia  sekarang dan nanti."


Kayutanam, 6 September 1997.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar