Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

YA TUHAN, SI KECIL ITU… (My Lord, The Baby… oleh Rabindranath Tagore)

YA TUHAN, SI KECIL ITU…
(My Lord, The Baby… oleh Rabindranath Tagore)
Raicharan baru berusia dua belas tahun ketika ia datang sebagai pembantu di rumah majikannya. Ia berkasta sama dengan sang majikan dan diserahi tugas mengasuh putera mereka yang masih kecil. Waktupun terus melaju, dan si bocah meninggalkan pangkuan Raicharan untuk bersekolah. Selanjutnya ia meneruskan ke perguruan tinggi dan setelah lulus bertugas sebagai hakim. Begitulah seterusnya, sampai dia menikah, Raicharan adalah pembantu satu‑satunya.
Namun ketika seorang nyonya muda masuk ke rumah itu, maji­kan Raicharan pun kini dua, tidak satu lagi. Semua pengaruh yang dimilikinya dulu, kini beralih kepada nyonya muda tadi. Dan sebagai gantinya adalah kedatangan seorang tamu baru. Anukul memperoleh seorang putera, dan Raicharan pun mencurahkan segenap perhatiannya kepada si kecil itu. Ia melambung‑lambungkannya di dalam dekapannya, memanggil‑manggilnya dengan bahasa bayi yang aneh, mendekatkan wajahnya kepada wajah si bayi lalu menariknya lagi sambil meringis.
Sekarang si kecil sudah bisa merangkak dan melewati pintu. Ketika Raicharan memburunya, ia menjerit‑jerit dan tertawa nakal serta berusaha menghindar. Raicharan terpana melihat kemahiran dan kecerdikan yang ditunjukkan oleh bocah itu ketika sedang dikejar. Ia berkata kepada nyonya majikannya dengan pandangan kagum dan misterius: “Putera anda suatu hari nanti akan menjadi seorang hakim.”
Keajaiban‑keajaiban yang lainpun menyusul. Ketika si kecil mulai bisa berjalan tertatih‑tatih, maka hal itu bagi Raicharan merupakan sebuah peristiwa yang bersejarah. Dan saat ia memanggil ayahnya Ba‑ba dan ibunya Ma‑ma serta Raicharan Chan‑na, maka kegembiraan Raicharan pun tak terbendung lagi. Ia pergi keluar untuk mengabarkan berita itu kepada seluruh dunia.
Tak lama kemudian Raicharan pun dituntut untuk menunjukkan keterampilannya. Misalnya ia harus berperan sebagai kuda, menggi­git tali kekang dengan giginya dan berjingkrak‑jingkrak. Ia pun harus bergulat dengan lawan kecilnya, dan kalau ia tidak mengalah dengan menjatuhkan punggungnya menggunakan trik seorang pegulat maka pastilah akan terdengar jeritan keras.
Dalam waktu itu Anukul dipindah‑tugaskan ke sebuah distrik di tepian Sungai Padma. Dalam perjalanannya melalui Kalkuta ia membelikan puteranya sebuah mobil go‑cart kecil. Selain itu juga selembar mantel kuning setinggi pinggang, sebuah topi berenda emas, dan beberapa gelang tangan dan kaki dari emas. Raicharan biasa mengeluarkan barang‑barang ini dan memasangkannya ke tubuh bos kecilnya itu dengan suatu upacara kehormatan sebelum mereka pergi berjalan‑jalan.
Kemudian datanglah musim hujan, dan hari demi hari hujan itu meluapkan sungai‑sungai kecil. Sungai besar yang lapar, bagai ular raksasa, menelan petak‑petak sawah, desa‑desa, ladang‑ladang jagung, dan membenamkan rumput‑rumput tinggi dan kasuarina liar yang tumbuh di tepian sungai. Setiap saat terdengar bunyi runtuhan bantalan sungai yang ambruk. Suara deru arus sungai besar yang tiada henti‑hentinya bisa terdengar dari kejauhan. Tumpukan buih‑buih yang hanyut dengan cepatnya menggambarkan betapa kencangnya arus itu.
Pada suatu tengah hari hujan itupun reda. Suasananya men­dung namun sejuk dan cerah. Si Tuan Kecil‑nya Raicharan tidak kerasaan tinggal di rumah pada siang yang cerah itu. Ia masuk ke dalam mobil go‑cart‑nya. Raicharan pun menariknya perlahan‑lahan sepanjang jalan sampai mencapai persawahan di tepian sungai. Tak ada orang lain di persawahan itu dan tak ada perahu di sungai. Sementara jauh di seberang air, terlihat awan pecah‑pecah di barat. Upacara terbenamnya matahari yang hening terlihat dengan segala kemegahannya yang berkilauan. Di tengah‑tengah keheningan itu tiba‑tiba si kecil menunjuk sesuatu di depannya dan berteriak:
“Chan‑na, kembang bagus tuh!”
Di dekat dataran berlumpur berdiri sebatang pohon kadamba yang penuh bunga. Ya Tuhan, si kecil itu memandanginya dengan penuh antusias. Raicharan pun mengerti maksudnya. Hanya sesaat sebelum ia sempat menjalankan go‑cart kecil itu, karena khawatir terhadap bunga‑bunga bundar ini, si kecil telah lebih dulu menyeret‑nyeretnya dengan penuh kegembiraan menggunakan seutas tali. Maka sepanjang hari itupun Raicharan tidak perlu lagi mengenakan tali kekang. Dia telah naik pangkat dari seekor kuda kini menjadi seorang tukang kuda.
Tapi sore itu Raicharan tidak ingin berjalan menyeberangi lumpur setinggi lutut untuk memetik bunga‑bunga tadi. Maka iapun cepat‑cepat menunjukkan jarinya ke arah yang berbeda sambil berseru:
“Oh lihatlah, nak, lihat! Lihat burung itu!” Dan dengan berisik didorongnya go‑cart tadi cepat‑cepat menjauhi pohon itu.
Tapi si kecil yang telah ditakdirkan menjadi seorang hakim tersebut, tidak semudah itu ditolak keinginannya. Lagi pula saat itu memang tidak ada sesuatu apapun yang dapat untuk mengalihkan perhatiannya. Dan tidak bisa terus‑terusan berpura‑pura tentang adanya burung khayalan.
Tekad majikan kecil itu sudah bulat dan akhirnya Raicharan pun kehabisan akal. “Baiklah, nak,” akhirnya ia berkata, “duduk­lah dengan tenang di mobil ini, dan aku akan pergi mengambilkan bunga cantik itu untukmu. Tapi ingat ya, jangan dekat‑dekat ke air itu.”
Setelah berkata demikian iapun menarik pakaiannya sampai sebatas lutut dan mengarungi lumpur yang terus mengalir tadi menuju ke pohon tersebut.
Begitu Raicharan pergi, si kecil berjalan dengan cepat menuju ke air terlarang tadi. Ia memandangi sungai yang mengalir deras itu, yang berdebur dan berdeguk saat melintas. Seolah‑olah arus air yang bandel itu melarikan diri dari raksasa seperti Raicharan dengan bunyi bagai tawa ribuan bocah cilik.
Melihat kenakalan mereka, hati anak manusia itu menjadi senang dan gemas. Dengan diam‑diam iapun turun dari go‑cart‑nya dan berjalan tertatih‑tatih mendekati sungai. Di tengah jalan ia memungut sebatang ranting dan mencondongkan tubuhnya ke arus deras itu, seperti orang yang sedang memancing. Peri‑peri sungai yang nakal dengan suara misterius mereka seakan memanggil‑mang­gilnya untuk masuk ke dalam istana bermain mereka yang mengasyik­kan.
Raicharan telah memetik segenggam penuh bunga dari pohon tadi, dan sedang membawanya kembali menggunakan ujung pakaiannya dengan wajah yang diliputi senyum ceria. Tapi ketika ia telah mencapai go‑cart  tadi tak ada seorangpun di sana. Ia melihat‑lihat ke segala arah dan tak mendapati seorangpun. Ia menengok lagi ke go‑cart itu namun juga tetap tak ada siapapun di sana.
Pada awal saat yang mengerikan itu darahnya membeku. Di depan matanya seluruh dunia ini berenang berputar seperti kabut hitam. Dari dasar lubuk hatinya yang hancur ia berteriak:
“Tuaaan…! Tuaaan…! Tuan Keciiil…!”
Tapi tak terdengar sahutan yang menjawab Chan‑na…!  Tak ada suara tawa nakal anak kecil, tak ada teriakan gembira si kecil yang menyambut kedatangannya. Hanya sungai yang terus mengalir itu, dengan bunyi debur dan deguknya seperti semula, seolah tak tahu apa‑apa dan tak punya waktu untuk mengikuti ‘peristiwa kecil kemanusiaan’ semacam kematian seorang balita tersebut.
Ketika senja telah lewat, nyonya majikan Raicharan menjadi khawatir. Ia mengutus orang‑orang untuk pergi mencari ke segala arah. Merekapun berangkat dengan membawa lentera di tangan, dan akhirnya sampai di tepian Sungai Padma. Di sana mereka mendapati Raicharan sedang mondar‑mandir berkeliaran di persawahan seperti angin badai, meneriakkan jeritan putus asa:
“Tuaaan…! Tuaan…! Tuan Keciiil…!”
Pada akhirnya ketika mereka membawanya pulang ke rumah, ia langsung jatuh menyungkur di depan kaki nyonya majikannya. Mereka mengguncang‑guncang tubuhnya dan menanyainya berulang‑ulang di mana tadi ia tinggalkan si kecil, namun yang dapat dikatakannya hanyalah bahwa ia tidak tahu.
Meskipun semua orang beranggapan bahwa Sang Padma telah menelan bocah cilik itu, namun masih ada keraguan terselip di benak mereka karena sekelompok gipsi terlihat berada di luar desa itu pada siangnya dan ada kecurigaan ditujukan terhadap mereka.
Sang ibu dalam kesedihannya yang dalam bertindak terlampau jauh karena menganggap bahwa mungkin saja Raicharan sendiri yang menculik anak itu. Dengan suara lirih wanita itu memohon dengan pilu kepadanya:
“Raicharan, kembalikan anakku. Oh, kembalikan puteraku. Ambillah berapapun uang yang kau minta, tapi kembalikan puteraku!”
Raicharan hanya mampu membentur‑benturkan keningnya sebagai jawaban. Nyonya majikannya pun menyuruhnya keluar dari rumah itu. Anukul berusaha menyadarkan istrinya dari kecurigaan yang tidak adil ini. “Kenapa dia akan melakukan kejahatan seperti itu?” katanya.
Sang ibu hanya menjawab, “Anak itu memakai perhiasan di tubuhnya. Siapa tahu kan?”
Setelah itu tidak mungkin lagi membu­juk wanita itu.
Raicharan pulang kembali ke desa asalnya. Sampai saat itu ia tidak punya anak, dan sudah tidak dapat diharapkan lagi ia akan mendapat seorang anak. Namun terjadilah sebelum akhir tahun itu istrinya melahirkan seorang bayi kemudian meninggal. Mulanya kebencian yang meluap‑luap tumbuh di hati Raicharan saat melihat bayi yang baru lahir itu. Di dalam benaknya ada kecurigaan sengit bahwa kedatangannya untuk merebut kedudukan majikan kecilnya dulu. Ia juga berpikir bahwa adalah merupakan suatu tindakan yang berani untuk bersuka cita atas puteranya sendiri setelah apa yang baru saja menimpa anak majikannya. Sungguh, seandainya bukan karena adik perempuannya yang telah janda yang merawatnya, umur bayi merah itu takkan panjang.
Namun perlahan‑lahan terjadi perubahan pada pikiran Raicharan. Suatu hal yang ajaib terjadi. Bayi baru ini mulai merangkak‑rangkak dan melintasi pintu dengan kenakalan di wajahnya. Ia pun menunjukkan kecerdasan yang mengagumkan dalam usahanya menghindarkan diri. Suaranya, bunyi tawa dan tangisnya, tin­dak‑tanduknya, sama seperti majikan kecilnya yang dulu itu. Selama beberapa hari ketika Raicharan menyimak jeritan‑jeri­tannya, jantungnya tiba‑tiba berdebar kencang tak karuan sampai menghentak ke tulang‑tulang rusuknya, seolah‑olah majikan ciliknya yang dulu itu sedang menjerit entah di mana di suatu tempat di negeri maut karena ia kehilangan Chan‑na‑nya.
Phailna, nama yang diberikan oleh adik perempuan Raicharan kepada bocah itu, belajar bicara dengan cepat. Ia mulai belajar mengucapkan Ba‑ba dan Ma‑ma dengan aksen bocahnya. Ketika Raicharan mendengar suara yang tak asing ini tiba‑tiba misteri itupun menjadi jelas. Majikan cilik itu tak dapat membuang ejaan Chan‑na‑nya, oleh sebab itulah iapun kini lahir kembali di ru­mahnya sendiri.
Bagi Raicharan alasan‑alasan yang tak terbantahkan adalah: Pertama, bayi itu lahir tak lama setelah tuan kecilnya meninggal. Kedua, istrinya tak mungkin memperoleh keberuntungan sebegitu besarnya sehingga bisa melahirkan seorang putera pada usia yang sudah setengah baya. Ketiga, sang balita berjalan tertatih‑tatih dan menyerukan Ba‑ba dan Ma‑ma. Tak ada tanda‑tanda yang kurang sedikitpun tentang sifat seorang hakim di masa depan.
Tiba‑tiba Raicharan teringat tuduhan dahsyat dari sang ibu dulu itu. “Ah,” ujarnya kepada diri sendiri, “Naluri sang ibu memang benar. Ia tahu kalau aku telah mencuri anaknya.” Begitu ia menarik kesimpulan ini, dirinya dipenuhi penyesalan yang dalam karena ketidak‑acuhannya dulu.
Kini diserahkannya seluruh jiwa dan raganya kepada anak itu, dan menjadi pembantunya yang setia. Ia pun membesarkan anak itu dengan memperlakuannya bagaikan anak orang kaya. Dibelikannya sebuah go‑cart, sebuah mantel satin kuning sebatas pinggang, dan topi berenda emas. Ia mencairkan semua perhiasan mendiang istrinya dan membuatnya menjadi gelang‑gelang kaki. Ia tak mengijinkan bocah itu bermain dengan orang lain di lingkungan sekitarnya, dan menjadikan dirinya sendiri sebagai satu‑satunya teman bermainnya sepanjang siang dan malam.
Ketika bocah tersebut memasuki masa kanak‑kanaknya, ia sangat disayang, dimanja dan diberi dandanan yang bagus‑bagus sehingga anak‑anak lainnya di desa itu menyebutnya ‘Sang Pangeran’ dan mengolok‑oloknya, sedangkan orang‑orang yang lebih tua menganggap Raicharan sebagai seseorang yang aneh karena begitu tergila‑gilanya kepada si bocah.
Akhirnya tibalah saatnya anak itu masuk sekolah. Raicharan menjual sebidang tanah kecilnya dan berangkat ke Kalkuta. Di sana setelah bersusah‑payah ia memperoleh pekerjaan sebagai seorang pembantu, dan memasukkan Phailna ke sekolah. Ia rela menanggung penderitaan untuk memberi anak itu pendidikan terbaik, pakaian terbaik, dan makanan terbaik. Sementara untuk dirinya sendiri ia cukup hidup hanya dengan sesuap nasi, dan berkata dalam batinnya:
“Ah, Tuan Kecilku. Tuan Kecilku sayang, kau begitu mencin­taiku karena kau kembali ke rumahku. Kau takkan pernah lagi kuabaikan.”
Dua belas tahunpun berlalu dengan cara demikian. Anak itu telah pandai membaca dan menulis. Ia cerdas, sehat dan tampan. Ia pun sangat memperhatikan penampilannya dan sangat teliti mengatur rambutnya. Ia suka boros dan berdandan bagus serta menggunakan uang seenaknya. Ia tak pernah dapat memandang Raicharan sebagai seorang ‘ayah’ karena meski memberikan kasih‑sayang kebapakan, Raicharan pun berperilaku sebagai seorang pembantu. Satu kesala­han mendasar  adalah bahwa Raicharan merahasiakan kepada siapa saja bahwa dialah sesungguhnya ayah anak itu. Para siswa di asrama tempat Phailna tinggal sangat senang dengan tingkah laku udik Raicharan, dan memang harus diakui bahwa di balik punggung ayahnya, Phailna pun ikut‑ikutan bergabung dengan mereka. Namun di lubuk hati mereka, semua siswa itu mencintai orang tua yang lugu dan berhati lembut ini, dan Phailna pun sangat sayang padanya. Namun seperti telah dikatakan tadi, ia mencintainya sekaligus dengan sikap merendahkannya.
Raicharan semakin uzur, sementara majikannya sering menya­lahkan pekerjaannya yang tidak beres. Ia telah menyiksa dirinya demi anak itu. Maka fisiknya pun menjadi lemah dan tak lagi mampu menunaikan tugas‑tugasnya dengan baik.
Ia mulai pelupa, otaknya menjadi tumpul dan bodoh. Sedang­kan majikannya menginginkan seorang pembantu yang bekerja dengan giat dan tangkas serta tidak mau mentolerir uzur apapun. Uang yang dibawa Raicharan dari hasil menjual tanahnya telah habis. Sementara pemuda itu terus mengomel tentang pakaiannya dan minta uang lebih banyak lagi.
Raicharan akhirnya mengambil keputusan. Ia tak dapat lagi meneruskan bekerja sebagai pembantu, dan sambil meninggalkan sejumlah uang kepada Phailna ia berkata:
“Aku ada urusan yang harus dikerjakan di desa tempat ting­galku, dan akan kembali lagi secepatnya.”
Ia pun berangkat saat itu juga ke Baraset di mana Anukul menjadi hakim. Istri Anukul masih larut dalam kesedihannya. Wanita itu tidak mempunyai anak lainnya.
Pada suatu hari Anukul sedang mengaso setelah melewati satu hari yang panjang dan melelahkan di pengadilan. Istrinya sedang membeli suatu ramuan jamu dengan harga yang sangat mahal dari dukun penjual obat yang katanya bisa membantu kelahiran seorang anak. Terdengar suara sapaan seseorang di halaman. Anukul beran­jak keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang, ternyata Raicharan. Hati Anukul luluh ketika melihat mantan pembantunya itu. Ia pun bertanya banyak hal kepadanya, dan menawarinya untuk bekerja lagi.
Raicharan tersenyum simpul dan menjawab, “Saya ingin men­yampaikan sembah takzim kepada nyonya saya.”
Anukul berjalan ke dalam rumah bersama Raicharan, di mana sang nyonya tidak menyambutnya sehangat mantan majikan laki‑lakinya. Namun Raicharan tidak begitu mempedulikan dan hanya merangkapkan kedua belah telapak tangannya.
“Bukan Padma yang telah mencuri putera anda, tapi saya.”
Anukul berseru:
“Astaga! Ha, apa? Di mana dia sekarang?”
Raicharan menjawab, “Ia bersama saya. Akan saya antar besok lusa.”
Saat itu hari Ahad, tidak ada sidang di pengadilan. Kedua suami‑istri itu melihat‑lihat dengan penuh harap ke sepanjang jalan, menanti sejak pagi sekali akan kemunculan Raicharan. Pada pukul sepuluh iapun datang sambil menggandeng tangan Phailna.
Istri Anukul tanpa bertanya‑tanya langsung saja memeluk anak itu dan lupa diri dalam luapan rasa gembira, kadang tertawa‑tawa, kadang menangis, memegang‑megangnya, mencium rambut dan keningnya, dan memandanginya dengan tatapan yang sangat antusias. Pemuda itu sangat elok dan berpakaian seperti putera seorang yang terpandang. Hati Anukul pun diluapi rasa kasih‑sayang yang tiba‑tiba saja muncul.
Meskipun begitu dengan kebijakannya sebagai hakim ia ber­tanya juga:
“Apa kau punya bukti?”
Raicharan menjawab, “Bagaimana ada bukti untuk perbuatan seperti ini? Hanya Tuhan saja yang tahu kalau saya yang telah mencuri putera anda, dan tak ada orang lain lagi di dunia ini.”
Ketika Anukul menyaksikan betapa lengketnya sang istri kepada pemuda itu, ia menyadari hanya sia‑sia saja meminta suatu bukti. Akan lebih bijaksana untuk percaya saja. Lagi pula dari mana laki‑laki tua seperti Raicharan mendapatkan pemuda seperti itu? Dan kenapa pula pembantu kepercayaannya sampai hati menipunya bila tidak ada suatu pamrih sama sekali?
“Tapi…,” katanya menambahkan dengan nada berat, “Raichar­an, kau tidak boleh tinggal di sini.”
“Kemana lagi saya hendak pergi, Tuan?” tanya Raicharan dengan suara tercekik sambil merangkapkan kedua telapak tangannya. Saya sudah tua. Siapa yang mau memperkerjakan seorang laki‑laki tua sebagai pembantu?”
Sang nyonya majikannya berkata, “Biarkan dia tinggal. Anakku akan senang, aku mema’afkannya.”
Tapi naluri hakim Anukul tidak mengijinkannya. “Tidak,” ujarnya, “ia tak dapat dima’afkan atas perbuatannya itu.”
Raicharan membungkuk ke tanah dan memegangi kaki Anukul. “Tuan,” tangisnya, “biarkan saya tinggal. Bukan saya yang melaku­kannya, tapi Tuhan.”
Nurani Anukul lebih terpukul lagi ketika Raicharan berusaha meletakkan kesalahan di pundak Tuhan. “Tidak,” katanya, “aku tak dapat mengijinkannya. Aku tidak lagi dapat mempercayaimu. Kau telah melakukan pengkhianatan.”
Raicharan bangkit berdiri dan berkata, “Bukan saya yang telah melakukannya.”
“Lalu siapa?” tanya Anukul.
Raicharan menjawab, “Nasib saya.”
Tapi tak ada seorang berpendidikanpun yang akan menerima ini sebagai alasan. Anukul tetap pada pendiriannya.
Ketika Phailna melihat kenyataan bahwa dirinya adalah putera seorang hakim yang kaya, dan bukanlah anak Raicharan, mulanya ia marah. Memikirkan bahwa selama ini ia telah ditipu mengenai asal‑usulnya. Namun menyaksikan Raicharan sedang dalam kesulitan begitu, ia berkata dengan baik hati kepada “ayahnya”:
“Ayah, ma’afkanlah dia. Bahkan kalau Ayah tidak mengijin­kannya tinggal bersama kita, biarlah dia mendapat sedikit pensiun bulanan.”
Setelah mendengar ini Raicharan tidak lagi mengucapkan sepatah katapun. Ia memandangi wajah puteranya untuk yang terakhir kalinya lalu memberi hormat kepada mantan tuan dan nyonya maji­kannya. Setelah itu iapun pergi keluar dan menghilang di tengah‑tengah kerumunan manusia di dunia ini.
Pada akhir bulan Anukul mengiriminya sejumlah uang ke desa tempat tinggalnya. Tapi uang itu kembali. Di sana tak ada seorangpun yang bernama Raicharan.
.
RABINDRANATH TAGORE (1861‑1941) penulis India yang bagus ini, penggubah lagu kebangsaan India dan juga Bangladesh, mendapat Hadiah Nobel di bidang sastra pada tahun 1913. Dikenal sebagai seorang penyair, dramawan, dan novelis baik dalam Bahasa Inggris maupun Bengali. Tagore juga seorang tokoh kemanusiaan yang diakui di seluruh dunia. Alih bahasa oleh Syafruddin HASANI.

TUHAN MAHA TAHU, TAPI SABARLAH…. (God Sees The Truth, But Waits… Oleh Leo Tolstoy)

TUHAN MAHA TAHU, TAPI SABARLAH….
(God Sees The Truth, But Waits… Oleh Leo Tolstoy)
Di kota Vladimir hiduplah seorang saudagar muda yang bernama Ivan Dimitrich Aksionov. Ia memiliki sebuah rumah dan dua buah toko.
Aksionov adalah seorang pria tampan berambut pirang keriting, penuh canda dan gemar menyanyi. Ketika masih sangat muda ia suka minum‑minum dan bikin ribut kalau mabuk. Tapi setelah menikah ia pun berhenti minum, kecuali sesekali saja.
Pada suatu musim panas Aksionov akan berangkat ke Pasar Malam Nizhny, dan ketika berpamitan dengan keluarganya, istri­nya berkata, “Ivan Dimitrich, jangan berangkat hari ini. Aku telah bermimpi buruk tentangmu.”
Aksionov tertawa dan menyahut, “Kau khawatir kalau sesampainya di sana nanti, aku akan berfoya‑foya.”
Istrinya menjawab, “Aku tak tahu apa yang kukhawatirkan, yang kutahu hanyalah bahwa aku telah bermimpi buruk. Dalam mimpi itu kulihat setelah kau pulang dari kota dan membuka topi, seluruh rambutmu telah ubanan.”
Aksionov tertawa. “Itu pertanda baik,” ujarnya. “Lihat kalau sampai aku tidak menjual habis semua barang‑barangku, dan membawakanmu oleh‑oleh dari sana.”
Maka iapun berpamitan kepada keluarganya dan berangkat dengan kereta kudanya.
Ketika baru setengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang saudagar kenalannya, dan merekapun menginap di losmen yang sama malam itu. Mereka menikmati teh bersama dan setelah itu berangkat ke tempat tidur di ruang yang bersebelahan.
Bukanlah kebiasaan Aksionov untuk tidur sampai larut, dan karena ingin berangkat ketika hari masih dingin, ia mem­bangunkan kusirnya sebelum fajar dan menyuruhnya menyiapkan kuda. Kemudian ia pergi ke tempat pemilik losmen yang tinggal di sebuah pondok di belakang, membayar sewanya dan melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan kira‑kira sejauh dua puluh lima mil, ia menyuruh berhenti untuk memberi makan kuda. Aksionov beristi­rahat sejenak di gang losmen, lalu ia beranjak ke serambi depan dan sambil menyuruh untuk memanaskan samovar, iapun mengeluarkan gitarnya dan mulai memainkannya.
Tiba‑tiba sebuah troika mendekat dengan bunyi lonceng yang bergemerincing, seorang perwira turun diikuti oleh dua orang prajurit. Ia mendatangi Aksionov dan mulai menanyainya, tentang siapa dia dan kapan dia datang. Aksionov menjawab semua pertanyaannya, dan berkata,”Bersediakah Anda minum teh bersama saya?” Tapi sang perwira tetap meneruskan menanyainya.
“Di mana Anda menginap tadi malam? Apakah Anda sendirian ataukah bersama seorang saudagar yang lain? Apakah Anda ber­jumpa dengan seorang saudagar yang lain pagi ini? Kenapa Anda tinggalkan losmen itu sebelum fajar?”
Aksionov heran kenapa ia ditanyai dengan semua perta­nyaan itu, namun iapun menceritakan juga semua yang telah dialaminya, lalu menambahkan, “Kenapa Anda menanyai saya berulang‑ulang begitu seakan‑akan saya ini seorang pencuri atau perampok saja? Saya sedang dalam perjalanan bisnis, dan tidak perlu menginterogasi seperti itu.”
Kemudian sang perwira sambil memanggil para prajurit berkata, “Saya adalah perwira polisi di distrik ini, dan saya menanyai Anda karena saudagar yang menginap bersama Anda semalam telah ditemukan dalam keadaan tewas dengan leher tergorok. Kami harus memeriksa barang‑barang Anda.”
Merekapun memasuki rumah. Para prajurit dan perwira polisi tadi membuka kopor‑kopor Aksionov dan menggeledahnya. Tiba‑tiba sang perwira menarik sebilah pisau dari sebuah tas sambil berseru, “Pisau siapa ini?” Aksionov yang melihat sebilah pisau bernoda darah ditarik dari tasnya menjadi takut.
“Bagaimana ada darah di pisau ini?”
Aksionov berusaha menjawab namun dengan susah payah hanya mampu berucap dengan terbata‑bata:
“A‑ku ti‑dak ta‑hu. Bu‑kan mi‑lik‑ku.”
Kemudian sang perwira polisi berkata, “Pagi ini saudagar itu ditemukan di atas ranjang dengan leher tergorok. Andalah satu‑satunya orang yang dapat melakukannya. Rumah itu dikunci dari dalam dan tak ada orang lain di sana. Pisau bernoda darah ini berada di dalam tas Anda, lagi pula sudah jelas kelihatan dari wajah dan sikap Anda! Katakan bagaimana Anda membunuhnya, dan berapa banyak uang yang Anda curi?”
Aksionov bersumpah bahwa dirinya tidak melakukan hal itu. Dia tidak berjumpa lagi dengan saudagar itu sejak mereka usai minum teh bersama, dia tidak punya uang selain delapan ribu rubel miliknya sendiri, dan bahwa pisau itu bukan milik­nya. Tapi suaranya pecah, wajahnya pucat, dan dia pun gemetar ketakutan seakan‑akan memang bersalah.
Sang perwira polisi memerintahkan anak buahnya untuk mengikat Aksionov dan memasukkannya ke dalam kereta. Ketika mereka mengikat kedua kakinya jadi satu dan menghempaskannya ke dalam kereta, Aksionov berdoa dengan membuat isyarat tanda salib dengan tangannya dan menangis. Uang dan barang‑barangnya disita, ia dikirim ke kota terdekat dan ditahan di sana. Penyelidikan tentang diri­nya dilakukan di Vladimir. Para saudagar dan penduduk lain di kota itu mengatakan bahwa dulunya ia memang suka minum‑minum dan membuang‑buang waktu percuma, namun dia adalah orang baik. Kemudian sidang pengadilanpun digelar: ia dituduh telah membu­nuh seorang saudagar dari Ryazan dan merampoknya sebanyak dua puluh ribu rubel.
Istrinya putus asa dan tidak tahu apa yang harus dipercaya. Anak‑anaknya masih kecil, yang seorang malah masih menyusu. Sambil membawa mereka semua, ia berangkat ke kota di mana suaminya ditahan. Mulanya ia tidak diijinkan menjumpai suami­nya, namun setelah memohon dengan amat sangat, iapun mendapat­kan ijin dari para pejabat dan diantar menemui suaminya. Ketika melihat suaminya memakai seragam tahanan dan dirantai, dikurung bersama para pencuri dan penjahat—wanitu itupun jatuh pingsan dan tidak sadar‑sadar sampai beberapa lama. Setelah siuman ia menarik anak‑anaknya ke dirinya dan duduk di samping suaminya. Diceritakannya tentang keadaan di rumah, dan menanyakan apa yang menimpa suaminya. Pria itupun menceritakan semuanya. Lalu sang istri bertanya, “Apa yang dapat kita per­buat sekarang?”
“Kita harus mengajukan permohonan kepada Tsar agar tidak membiarkan orang yang tidak bersalah binasa.”
Istrinya mengatakan bahwa ia telah mengajukan permohonan itu kepada Tsar, tapi tidak dikabulkan. Aksionov tidak menja­wab namun hanya tampak putus asa.
Kemudian istrinya berkata, “Ternyata bukan tak ada artinya aku dulu bermimpi rambutmu ubanan. Masih ingatkah? Seharusnya kau tidak berangkat pada hari itu”. Dan sambil membelai rambut suaminya iapun berkata, “Vanya, sayang, kata­kanlah yang sejujurnya kepada istrimu ini. Apakah memang bukan kau yang melakukannya?”
“Jadi kaupun mencurigaiku!” sahut Aksionov, dan sambil membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan, iapun menangis. Lalu datanglah seorang prajurit yang mengatakan bahwa sang istri dan anak‑anaknya harus pergi. Aksionovpun mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya untuk yang terakhir kali­nya.
Ketika mereka telah pergi, Aksionov mengingat‑ingat percakapan tadi, dan ketika terkenang bahwa istrinyapun ikut mencurigainya, ia berkata pada dirinya, “Tampaknya hanya Tuhan saja yang tahu kebenaran ini, hanya kepada‑Nya kita berdoa dan minta ampun.”
Dan Aksionovpun tidak lagi mengajukan petisi dan berha­rap banyak, ia hanya berdoa kepada Tuhan.
Aksionov dijatuhi hukuman cambuk dan dikirim ke pertam­bangan. Iapun dicambuk dengan cemeti, dan setelah luka‑luka cambukan itu sembuh, ia dibawa ke Siberia bersama para pekerja paksa lainnya.
Selama dua puluh enam tahun Aksionov hidup sebagai seorang pekerja paksa di Siberia. Rambutnya berubah menjadi seputih salju, janggutnyapun tumbuh panjang, tipis, berwarna abu‑abu. Semua keceriaannya punah, ia selalu menunduk, berja­lan perlahan, sedikit bicara, dan tak pernah tertawa, namun sering berdoa.
Di dalam penjara Aksionov belajar membuat sepatu boot, dan memperoleh sedikit uang yang dibelikannya buku Kehidupan Orang‑Orang Saleh. Ia membaca buku itu ketika terdapat cukup cahaya di dalam penjara. Dan setiap hari Ahad di dalam gereja penjara ia membaca pelajaran‑pelajaran serta ikut menyanyi dalam paduan suara karena suaranya masih bagus.
Para pejabat penjara menyukai Aksionov karena kepatuhan­nya, dan teman‑teman sesama napi pun menghormatinya. Mereka menjulukinya dengan sebutan “Kakek” dan “Orang Saleh”. Kalau mereka ingin mengajukan permohonan kepada para pejabat penjara tentang hal apa saja, mereka selalu mengangkat Aksionov seba­gai juru bicaranya. Dan manakala terjadi keributan di antara sesama napi, mereka datang kepadanya untuk memutuskan perkara yang benar.
Tak ada berita yang sampai kepada Aksionov dari rumah­nya, bahkan iapun tak tahu apakah istri dan anak‑anaknya masih hidup.
Suatu hari sekelompok tahanan kerja paksa baru didatang­kan ke penjara. Sorenya, para napi lama mengerumuni rekan‑rekannya yang baru itu dan menanyai mereka: dari kota atau desa mana saja mereka berasal dan dihukum karena perbuatan apa. Di tengah‑tengah istirahat, Aksionov duduk di dekat para pendatang baru itu dan ikut mendengarkan dengan roman muka putus asa atas apa yang diucapkan.
Salah seorang di antara pekerja paksa baru itu adalah seorang pria berumur enam puluh tahunan berperawakan tinggi kekar dan berjenggot lebat terpangkas rapi, ia sedang berceri­ta kepada yang lainnya kenapa dirinya ditahan.
“Baiklah, teman‑teman,” ujarnya, “aku hanya mengambil seekor kuda yang sedang diikat di pengeretan. Lalu aku ditahan dan dituduh atas pencurian. Telah kukatakan bahwa aku mengam­bilnya supaya bisa cepat pulang ke rumah, kemudian melepasnya pergi. Lagi pula, pengendaranya adalah temanku sendiri. Dengan demikian aku bilang, ‘Itu tidak apa‑apa’. Tapi mereka mengata­kan, ‘Tidak. Kau telah mencurinya’. Tapi bagaimana dan kapan aku mencurinya mereka tak dapat menunjukkannya. Dulu, pernah sekali aku memang sungguh‑sungguh berbuat salah, dan seharus­nya berdasar hukum sudah berada di sini sejak lama, tapi ketika itu aku tidak tertangkap. Kini aku dikirim kemari tanpa alasan sama sekali…. Eh, tapi itu cuma bohong yang kucerita­kan kepada kalian. Aku pernah ke Siberia sebelumnya namun tidak tinggal lama.”
“Dari mana asalmu?” tanya seseorang.
“Dari Vladimir. Keluargaku berasal dari kota itu. Namaku Makar, dan mereka juga memanggilku Semyonich.”
Aksionov mengangkat kepalanya dan berkata, “Katakan padaku, Semyonich, apakah kau tahu sesuatu tentang keluarga saudagar Aksionov dari Vladimir? Apakah mereka masih hidup?”
“Tahu tentang mereka? Tentu saja. Keluarga Aksionov kaya, meskipun ayah mereka berada di Siberia, tampaknya seo­rang pendosa juga seperti kita! Lalu bagaimana dengan Anda sendiri, Kek? Bagaimana Anda bisa sampai di tempat ini?”
Aksionov tidak ingin menceritakan kemalangannya. Ia hanya mendesah dan berkata, “Karena dosa‑dosaku maka aku berada di dalam penjara selama dua puluh enam tahun ini.”
“Dosa‑dosa apa?” tanya Makar Semyonich.
Namun Aksionov hanya berkata, “Yah… aku memang layak mendapatkannya!”
Ia tak ingin berkata lebih banyak, namun teman‑temannya memberitahukan kepada para pendatang baru itu bagaimana Aksio­nov bisa sampai ke Siberia. Bagaimana seseorang telah membunuh seorang saudagar, lalu menyelipkan pisaunya ke dalam barang‑barang Aksionov, dan Aksionovpun secara tidak adil telah dijatuhi hukuman.
Ketika Makar Semyonich mendengar semua ini, ia meman­dangi Aksionov, dan berseru sambil menepuk‑nepuk lututnya sendiri, “Wow, sungguh luar biasa! Sangat luar biasa! Tapi betapa cepatnya kau menjadi tua, Kek!”
Yang lainnyapun menanyainya kenapa ia begitu terkejut, dan di manakah ia pernah melihat Aksionov sebelumnya, namun Makar Semyonich tidak memberikan jawaban. Ia hanya berkata, “Ini luar biasa bahwa kita akan bertemu di sini, hai budak‑budak!”
Kata‑kata ini membuat Aksionov bertanya‑tanya apakah pria ini tahu siapa sesungguhnya yang dulu membunuh sang saudagar, maka iapun berkata, “Semyonich, barangkali kau pernah mendengar kejadian itu, atau mungkin kau pernah meli­hatku sebelum ini?”
“Apakah aku pernah mendengarnya? Dunia ini penuh dengan desas‑desus. Tapi peristiwa itu sudah lama sekali dulu, dan aku telah lupa apa yang kudengar.”
“Barangkali kau pernah mendengar siapa yang membunuh saudagar itu?” tanya Aksionov.
Makar Semyonich tertawa dan menjawab, “Dia itu pastilah orang yang di dalam tasnya ditemukan pisau tersebut! Kalaulah  ada orang lain yang meletakkannya di sana, maka ada ungkapan: ‘Dia bukan pencuri sampai tertangkap’, bagaimana ada orang yang bisa meletakkan sebilah pisau di dalam tasmu yang berada di bawah kepalamu? Pastilah akan membuatmu terbangun.”
Ketika Aksionov mendengar kata‑kata ini, ia merasa yakin bahwa orang inilah yang telah membunuh saudagar itu. Iapun bangkit dan pergi. Sepanjang malam itu Aksionov terbaring dalam keadaan jaga. Dia merasa sangat sedih, dan berbagai bayangan muncul di benaknya. Ada bayangan istrinya saat ia meninggalkannya untuk pergi ke pasar malam. Dia melihat wanita itu seakan‑akan hadir: wajah dan matanya muncul di hadapannya, ia mendengar bicara dan tawanya. Lalu ia melihat anak‑anaknya, masih kecil‑kecil ketika itu, yang seorang mengenakan mantel mungil sedangkan yang satunya lagi masih menyusu di dada ibunya.
Lalu ia pun mengenang dirinya sendiri kala itu: muda dan ceria. Ia ingat ketika duduk bermain gitar di beranda losmen itu, di mana dirinya ditangkap. Betapa dulu ia tak pernah merasa susah.
Di benaknya ia melihat tempat di mana dirinya dicambuk, sang algojo, orang‑orang yang berdiri di sekelilingnya, ran­tai‑rantai itu, para pekerja paksa, semua dua puluh enam tahun kehidupannya di penjara, dan usia tuanya yang prematur. Menge­nang semua itu membuatnya sangat sedih hingga ingin rasanya bunuh diri.
“Dan semua ini karena perbuatan bajingan itu!” batinnya. Dan kemarahannya sangat besar kepada Makar Semyonich sehingga ia ingin sekali melakukan balas dendam, walaupun dirinya sendiri harus hancur karenanya. Ia terus mengulang‑ulang doa sepanjang malam itu, namum tetap tidak bisa merasa tentram. Selama siang harinya ia tidak mau berada di dekat Makar Semyo­nich, ataupun melihat ke arahnya.
Dua pekan berlalu seperti itu. Aksionov tak dapat tidur tiap malamnya, dan begitu menderita sehingga tak tahu apa yang harus dikerjakan.
Suatu malam ketika sedang berjalan‑jalan di sekitar penjara ia melihat seonggok tanah terlempar keluar dari bawah salah satu dipan bersusun tempat tidur para napi. Iapun ber­henti untuk mengamati apakah itu gerangan. Tiba‑tiba Makar Semyonich merangkak keluar dari bawah dipan tadi dan memandang ke atas kepada Aksionov dengan ketakutan. Aksionov berusaha berlalu tanpa memandang ke arahnya, tapi Makar Semyonich mencengkeram lengannya dan mengatakan kepadanya bahwa ia telah menggali sebuah lubang di bawah dinding, membuang tanahnya dengan cara memasukkannya ke dalam sepatu boot‑nya yang ting­gi, lalu membuangnya setiap hari ke jalan ketika para napi sedang digiring untuk bekerja.
“Pokoknya kau diam saja, Pak Tua. Dan kaupun akan ikut keluar juga. Kalau kau sampai berkicau maka mereka akan men­cambukku sampai mati, tapi sebelum itu aku akan membunuhmu lebih dulu.”
Aksionov bergetar marah ketika memandang musuhnya. Ia merenggutkan tangannya seraya berkata, “Aku tak ingin melolos­kan diri. Dan kaupun tak perlu membunuhku, kau telah membunuh­ku sejak lama! Tentang melaporkan perbuatanmu ini, aku boleh melakukannya atau tidak, Tuhanlah yang memberi petunjuk.”
Pada hari berikutnya ketika para napi digiring ke peker­jaan mereka, patroli tentara melihat salah seorang napi sedang membuang tanah dari sepatu boot‑nya. Penjara tersebut digele­dah dan terowongan itupun ditemukan. Sang gubernur datang dan menanyai semua napi untuk mencari tahu siapa yang telah meng­gali lubang itu. Mereka semua menyangkal mengetahui hal terse­but. Orang‑orang yang tahupun tidak mau mengkhianati Makar Semyonich, karena tahu bahwa ia akan dicambuk sampai hampir mati.
Akhirnya sang gubernur berpaling kepada Aksionov yang diketahuinya sebagai seorang yang jujur, dan berkata, “Kau adalah seorang tua yang bisa dipercaya, katakan padaku, di depan Tuhan, siapa yang telah menggali lubang itu?”
Makar Semyonich berdiri dengan lagak seakan‑akan tidak begitu peduli, dia memandang kepada sang gubernur dan hanya melihat sekilas ke arah Aksionov. Bibir dan tangan Aksionov bergetar, dan untuk beberapa lama ia tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ia membatin, “Mengapa aku harus melindungi orang yang telah menghancurkan hidupku? Biar dia membayar apa yang telah kuderita ini. Tapi bila aku bicara, mereka mungkin akan mencambuknya sampai mati, dan barangkali kecurigaanku ini bisa saja salah. Lagipula, apa untungnya bagiku?”
“Baiklah, Pak Tua,” ulang sang gubernur, “katakan padaku yang sejujurnya: siapa yang telah menggali di bawah tembok itu?”
Aksionov melihat sekilas ke arah Makar Semyonich, dan berkata, “Aku tak dapat mengatakannya, Tuan. Bukanlah kehendak Tuhan agar aku mengatakannya! Lakukan saja apa yang Anda inginkan atas diriku ini, aku berada di tangan Anda.”
Bagaimanapun sang gubernur telah berusaha, Aksionov tidak mau berkata lebih banyak lagi, dan perkara itupun akhir­nya dianggap selesai.
Malamnya ketika Aksionov berbaring di dipannya dan mulai terlelap, seseorang mendatanginya secara diam‑diam dan duduk di atas dipannya. Iapun memandang dengan tajam menembus kege­lapan dan mengenali Makar Semyonich.
“Apa lagi yang kamu inginkan dariku?” tanya Aksionov. “Kenapa kamu datang ke sini?”
Makar Semyonich diam.
Maka Aksionovpun duduk dan berkata, “Apa maumu? Pergi­lah, atau akan aku panggilkan penjaga!” Makar Semyonich membungkuk ke dekat Aksionov lalu berbi­sik, “Ivan Dimitrich, maafkan aku….”
“Untuk apa?” tanya Aksionov.
“Akulah sebenarnya yang dulu membunuh saudagar itu dan menyembunyikan pisaunya di dalam barang‑barangmu. Aku sebetul­nya bermaksud membunuhmu juga, namun kudengar ada ribut‑ribut di luar, maka kusembunyikan pisau itu ke dalam tasmu dan melarikan diri lewat jendela.”
Aksionov terdiam, dan tak tahu apa yang harus dikatakan­nya. Makar Semyonich beringsut dari dipan itu dan berlutut di atas tanah.
“Ivan Dimitrich,” katanya memohon, “maafkanlah aku. Demi kasih Tuhan, maafkanlah aku. Aku akan mengaku bahwa akulah yang telah membunuh saudagar itu, dan kaupun akan dibebaskan dan bisa pulang ke rumahmu.”
“Mudah saja bagimu bicara begitu,” ujar Aksionov, “tapi aku telah menderita karena ulahmu selama dua puluh enam tahun ini. Ke mana lagi aku hendak pergi sekarang? Istriku sudah meninggal, dan anak‑anakku pun sudah tak ingat lagi kepadaku. Aku tak bisa pergi ke mana‑mana lagi….”
Makar Semyonich tidak bangkit, tapi justru membentur‑benturkan kepalanya ke lantai. “Ivan Dimitrich, maafkan aku!” tangisnya. “Ketika mereka mencambukku dengan cemeti dulu, tidaklah seberapa berat menanggungnya dibandingkan melihatmu seperti saat ini. Bahkan kaupun telah mengasihaniku, dengan tidak mengatakannya kepada mereka siang tadi. Demi Kristus, ampuni aku, aku memang brengsek!” Dan iapun terisak‑isak. Ketika Aksionov mendengarnya menangis terisak‑isak begitu, iapun ikut menangis. “Tuhan akan mengampunimu,” kata­nya. “Mungkin aku seratus kali lebih buruk daripadamu.”
Dan dengan kata‑kata ini hatinyapun terasa ringan dan terang, kerinduan kepada rumah pun hilang. Ia tak ada keingi­nan lagi meninggalkan penjara itu, namun hanya mengharap agar saat‑saat terakhirnya segera tiba.
Terlepas dari apa yang telah dikatakan Aksionov, Makar Semyonich tetap mengakui kesalahannya. Tapi ketika perintah pembebasan atas dirinya dikeluarkan, Aksionov baru saja wafat.
.
LEO TOLSTOY (1828‑1910) ketika mudanya pernah bergabung di dalam dinas militer Tsar, namun setelah menikah ia menetap dan mengurusi para petani penggarap tanah milik keluarga Yasnaya Polyana. Di sanalah lahir anak‑anaknya, juga novel‑novel terbaiknya: Perang dan Damai dan Anna Karenina. Ia anti keker­asan, mencintai kesederhanaan dan kasih. Karena berani menyam­paikan pendapat dan bertindak sesuai dengan keyakinannya, iapun dikucilkan oleh Gereja Orthodox Rusia. Namun kini ia dianggap sebagai salah seorang tokoh puncak sastra dan seorang manusia yang saleh. Naskah cerita ini dalam Bahasa Inggrisnya berjudul God Sees the Truth, But Waits…. Alih bahasa oleh Syafruddin HASANI.

Selasa, 30 April 2013

Pahlawan Tersisa di Makam Tua Cerpen Danang Probotanoyo



Pahlawan Tersisa di Makam Tua
Cerpen Danang Probotanoyo (Republika, 11 November 2012
SENJA temaram menjemput malam. Kumaidi duduk di kursi rotan tua yang nyaris berbentuk bulat mirip telur ayam. Kursi dan meja pasangannya tersebut pemberian Pak Sudjono (almarhum), bekas komandan peleton di PETA tempat Kumaidi bergabung dulu.
Kursi itu masih kokoh walau pliturannya nyaris tak berbekas. Hanya meja nakas pasangannya yang sudah kelihatan reyot. Itu pun diusahakan Kumaidi agar bisa lebih lama lagi masa pakainya dengan diperkuat beberapa paku pada siku-sikunya. Kursi dan meja itu dikirim sendiri oleh Pak Sudjono pada tahun 1978 sebagai hadiah sekaligus bentuk solidaritasnya terhadap kekurangberuntungan nasib Kumaidi, sebagai sesama ekspejuang kemerdekaan. Pak Sudjono sendiri mengakhiri pengabdiannya kepada republik sebagai pensiunan di pabrik gula terbesar di kota mereka. Kondisi kontras dialami Kumaidi yang hingga sekarang masih terus berjuang, berjuang dan berjuang. Bedanya hanya pada medannya. Pada dekade 40-an, Kumaidi berjuang di medan perang demi eksistensi republik. Setelah kemerdekaan hingga sekarang, perjuangan Kumaidi di medan kehidupan riil sehari-hari demi eksistensi perutnya dan perut Sutinah, istrinya.
Sedikit gemetaran—khas orang lanjut usia—kedua telapak tangan keriput Kumaidi perlahan-lahan memilin klobot yang di dalamnya menyembul tembakau. Setelah tergulung ala kadarnya, diambilnya korek gas murahan untuk menyulut. Sekejab Kumaidi pun larut dalam kepekatan asap dan bau “rokok klobot” yang menyengat bagai dupa yang biasa ditemui di makam-makam tua di Jawa. Sesekali tangan kanannya meraih gelas berisi kopi pahit pekat sebagai selingan dalam ritual rutinnya setiap senja. Sruput, ah, nikmatnya.
“Pak, akan ke mana kita esok hari, kalau para petugas tramtib dan kecamatan itu datang melakukan eksekusi.”
Suara Sutinah membuyarkan keheningan dan keasyikan Kumaidi, ketika secara tiba-tiba sosok perempuan tua itu menyeruak dari dalam rumah ke teras, tempat Kumaidi bersemayam. Kumaidi menyedot klobotnya lebih dalam menyebabkan pipinya bertambah kempot. Sambil menghela napas panjang, Kumaidi berujar, “Entahlah Bu, aku sendiri belum tahu.” Sruput, kopi yang tinggal separo pun dimasukkan sedikit ke tenggorokan.
“Anak, kita tak punya, saudara-saudara pun sudah pada tiada di kampung halaman,” ujar Kumaidi lirih dan sendu. Masih membekas di pikirannya kedatangan Pak Lurah pukul setengah empat sore tadi.
“Saya hanya bertugas menyampaikan surat pemberitahuan eksekusi kepada Pak Kum. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Pak, karena pemerintah maunya begitu,” ujar Pak Lurah dengan sedikit tercekat, ketika menyampaikan surat eksekusi tanah dan rumah Kumaidi. Kedatangan Pak Lurah sore itu sudah untuk yang keempat kalinya selama jangka waktu tiga bulan belakangan.
“Kalau untuk mempertahankan negeri ini dari cengkeraman Belanda dan Nipon aku bisa habis-habisan, sampai jiwa dan raga aku pertaruhkan,” ujar Kumaidi getir, sambil mengepalkan tangan dan memukulkannya pelan ke paha.
Kan, nggak lucu kalau aku harus mengangkat bambu runcing untuk mempertahankan secuil tanah dan gubug reot ini, padahal jelas-jelas ini tanah negara.”
“Apalagi uang tali asih sebesar setengah juta telah kita terima sebulan lalu dan itu pun telah habis buat nebus sepeda onthelku di pegadaian demi ngobati bronkitismu.”
“Yang penting kita sudah selesai mengepak milik kita, jangan sampai ada yang tertinggal.”
“Bintang gerilya dan SK veteranku jangan sampai keselip, Bu. Itu satu-satunya kebanggaan milik kita, sekaligus penyambung hidup kita.”
“O, ya, Pak, apakah tunjangan veteran bulan ini telah kamu ambil di bank?” tanya Sutinah.
“Ini simpan, tadi cuma aku kurangi buat beli mbako dan segelas es cincau di jalan, panas amat siang tadi, aku sampai seperti mau pingsan ngayuh sepeda.”
***
Tanpa terasa malam menggulung waktu. Namun, Kumaidi belum juga beranjak tidur. Lagi pula dalam kondisi dan situasi seperti yang sedang ia alami, apalah nikmatnya tidur apalagi leyeh-leyehmenikmati siaran televisi merek Grundig 14 inchi miliknya. Toh, TV tua itu telah dibungkus seprei oleh Sutinah dan dionggokkan di samping rumah beserta harta benda dekil lainnya. Kumaidi mondar-mandir di depan rumahnya. Dalam hitungan beberapa jam ke depan bakal diratakan dengan tanah oleh pihak berwenang lantaran berdiri di areal yang konon milik negara dan akan dijadikan “Jalur Hijau”. Itulah yang sering dilontarkan Pak Camat.
Sesekali ia berjalan di bekas reruntuhan rumah para tetangga yang telah mereka tinggalkan sebulan lalu. Ada yang terpaksa pulang ke desa tempat asal mereka. Ada yang mencari kontrakan di gang-gang kumuh seputaran kota. Ada juga yang nekat pindah ke pinggir rel kereta api dan kolong jembatan layang. Sekarang di areal tersebut tersisa satu rumah reyot milik Kumaidi. Setelah mondar-mandir melihat situasi, Kumaidi pun duduk di atas dipan kayu tua di bawah Pohon Waru, di depan bekas rumah Mat Jumali, pedagang sate keliling. Dipan itu tidak dibawa yang empunya karena kondisinya memang rusak. Sewaktu tetangganya masih komplet tinggal di lingkungan tersebut, dipan itu difungsikan untuk sosialisasi dan bercengkrama antartetangga di waktu sore hingga malam.
Sambil matanya nanar menatap hilir mudik kendaraan di kejauhan, tangan tuanya memegang rokok klobot kegemarannya. Tampak percikan api di kegelapan menyerupai kunang-kunang setiap Kumaidi menyedot klobotnya. Kriet…. Sejurus kemudian Kumaidi turun dari dipan. Kakinya meraba-raba tanah mencari sandal plastik merek Lily miliknya. Maklum, tempat itu gelap gulita karena sudah sebulan aliran listrik di daerah itu diputus. Listrik di rumah Kumaidi masih bisa menyala karena kreativitas seorang mantan tetangganya yang “nyanthol” kabel PLN di pinggir jalan, tak jauh dari pemukiman Kumaidi. Si tetangga kasihan lantaran melihat pasangan lansia tersebut tinggal di situ sendirian tanpa penerangan sama sekali.
Pelan-pelan Kumaidi membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci. Dilihatnya dengan penuh rasa sayang dan iba sang istri tengah pulas tidur di atas tikar tanpa dipan dan kasur. Pelan-pelan sepeda onthel tuanya dikeluarkan. Tanpa membangunkan sang istri, Kumaidi pun berlalu. Empat puluh menit mengayuh sepeda sampailah dia di pemakaman tua. Pemakaman itu tampak terawat dan berlampu neon di sana-sini. Pohon Kamboja dan Sri Rejeki menyemarakkan kuburan tersebut. Ya, pemakaman asri tersebut adalah Taman Makam Pahlawan tempat bersemayamnya jasad para kolega Kumaidi, termasuk Pak Sudjono mantan komandan peletonnya di PETA.
Dengan hati-hati Kumaidi menyandarkan sepeda tuanya di pintu masuk makam yang terbuat dari besi. Kakinya melangkah. Sesekali ia berdiri tegak semampunya sambil menyilangkan telapak tangan memberi hormat ke arah beberapa batu nisan. Dia berhenti dan duduk bersila di atas rerumputan makam dan tafakur di depan batu nisan Pak Sudjono. Sambil melelehkan air mata, ia terlihat komat-kamit seolah mengadu kepada mantan komandannya tersebut. Setengah jam kemudian, matanya melihat ke arah pojok makam tak jauh dari tempatnya bersila. Ada sinar harapan merona di wajah sepuhnya. Kumaidi melihat arloji di bawah keremangan lampu neon makam, dia pun bergegas meninggalkan makam tersebut.
“Ah, untung masih jam setengah dua belas malam, masih cukup waktu,” katanya dalam hati penuh kemisteriusan.
***
Pukul setengah lima pagi, Sutinah dibangunkan.
“Ayo, Bu, lekas kita berkemas untuk pindahan. Aku tak ingin nantinya kita yang diusir petugas dari tempat ini. Aku tidak ingin anak-anak muda tersebut menghardik kita.”
“Tapi, kita mau ke mana, Pak? Apalagi sepagi ini.”
“Sudah, ikuti saja perintahku, tolong kau bantu angkat kardus besar ini ke atas boncengan sepeda. Dua buntalan taplak meja berisi barang-barang yang tak terlalu berat, nanti kamu tenteng di kanan-kiri. Aku nanti yang menuntun sepeda dengan kardus besar ini.”
Sutinah pun menuruti kemauan sang suami.
Lho, kemana barang-barang yang lain, Pak? Kemana kayu-kayu tua, gedhek tua dan selembar tipleks yang kemarin sudah kita persiapkan di samping rumah.”
“Semalam semuanya telah aku pidahkan ke calon tempat  kita yang baru.”
“Hah, sendirian kamu pindahkan semuanya?”
“Ya, pada siapa lagi mesti minta bantuan, lagian kan aku tinggal nuntun si onthel, dialah yang mengangkut semuanya.”
Sutinah pun penuh tanda tanya besar dalam benaknya, perihal ke mana dia akan diajak pindah oleh Kumaidi.
“Ayo, lekas kita jalan, mumpung belum bayak orang yang melihat.”
Sepasang lansia tangguh itupun berjalan perlahan secara beriringin. Kumaidi di depan sambil menuntun sepeda yang telah dibebani kardus besar, sedang Sutinah mengiringi di belakangnya sambil menenteng dua buntalan di kanan-kiri.
Satu setengah jam, sampailah mereka di tempat yang dituju.
“Ayo, masuk Bu, nggak usah bengong, kan sudah seringkali aku mengajakmu ke mari.”
“Tapi, ini kan makam, Pak, tempat Pak Sudjono, Pak Waluyo, Pak Hadi dan teman-teman seperjuangan bapak lainnya dimakamkan.”
“Iya, ini satu-satunya tempat yang disediakan pemerintah untuk menghargai kita-kita yang dulu telah berjasa mengusir penjajah dari republik. Memang, ini disediakan untuk kita setelah tak ada umur alias wafat, tapi apa salahnya jika kita menyesuaikan diri dulu di sini barang sebentar, sampai ajal menjemput.”
Mata tua Sutinah mulai meneteskan air mata, disekanya satu persatu buliran air matanya dengan ujung kebaya lusuhnya.
“Sudah, Bu, kita terima saja, apa yang diberikan negeri ini kepada kita, tak ada faedahnya kita menyumpahi terus anak-anak muda yang tak tahu balas budi atas pengorbanan kita dulu. Mereka sudah hidup di alam merdeka berhak untuk menikmatinya, kita ikhlas saja.”
“Di sebelah mana kita nantinya akan tinggal, Pak?”
“Itu, di sebelah pojok, utara nisan Pak Sudjono, kayu-kayu, tripleks, gedhek dan barang-barang lainnya telah aku taruh di sana. Nanti kita tinggal merakitnya jadi gubug sederhana. Tempatnya lumayan lapang. Ada kalau cuma tiga kali empat meter, tempatnya pun strategis karena dua sisinya sudah ada tembok pagar makam.”
“Tapi, Pak, apakah nantinya kita tak di usir lagi dari sini.”
“Ini hak kita, Bu, mau kita ambil sekarang apa nanti tak ada bedanya bagi orang lain, lagian teman-teman di sini sangat mendukung dan sangat senang  menerima kita sekarang.”
“Siapa yang kau maksudkan teman-teman di sini, Pak?”
“Pak Sudjono cs-lah!” jawab Kumaidi tanpa beban.
“Tapi, pak….”
“Aku, tahu mereka sudah terbujur kaku di sini. Semalam, waktu akunyekar mereka dan mengadukan nasib kita, karena kelelahan aku tertidur sejenak dengan memeluk nisan Pak Sudjono. Dalam tidur sekejab itu aku bermimpi bertemu Pak Sudjono dan yang lainnya. Mereka sangat senang bertemu aku, dan menyuruh aku untuk tinggal di sini. Bahkan, mereka berjanji kepadaku tak akan rela bila ada yang berani mengusik kita di sini.”
Sepasang lansia itu pun menangis sesenggukan sambil berpelukan erat satu sama lain. (*)


Catatan :
Klobot                : Kulit Jagung kering
Nyekar               : Tabur bunga ke makam