Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia X. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia X. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 November 2021

Resensi Buku

 RESENSI

1. Pengertian

Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku.(G. Keraf 1994:274). Istilah lain untuk resensi adalah sorotan, bedah buku, tinjauan buku, pertimbangan buku, serta riviu. Muhcsin Ahmadi memilih istilah riviu yaitu secara khusus berarti suatu uraian yang bersifat informative tentang isi dan kualitas suatu buku atau karangan, novel, cerpen, drama/lakon, lukisan ataubentuk-bentuk seni lainnya. Secara umum resensi boleh menggarap selain seni misal penampilan pemain olahraga, bentuk bangunan, tata kota, dan lain-lain.

Tujuan resensi adalah menyampaikan informasi kepada pembaca mengenai sebuah buku/hasil karya layak mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

Meresensi pada dasarnya kegiatan intelektual  sehingga dapat memperluas pandangan keilmuan yang mencakup;

a. Pemahaman terhadap suatu masalah

b. Mengambil intisari masalah

c. Memberikan pertimbangan dan perkiraankritis terhadp masalah

 

2. Dasar Resensi

a. Peresensi/resensator harus mengetahui sepenuhnya tujuan pengarang menulis buku.

Tujuan penulisan buku ada pada kata pengantar atau juga pendahuluan. Dalam hal ini perensensi harus dapat menghubungkan tujuan dengan isi buku. Bila ada relevansinya maka buku itu dikatakan baik, sudah memenuhi tujuan.

b. Peresensi harus menyadari maksud membuat resensi.

Tujuan resensi adalah menyampaikan informasi kepada pembaca mengenai sebuah buku/hasil karya layak mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

3. Sasaran dan syarat perensensi/resensor

Peresensi harus mengusahakan hal-hal berikut

a. Terampil dalam mengenal pokok masalah yang diresensi.

b. Resensi pada film, drama/lakon didasarkan saat atau setelah pertunjukan.

c. Berasumsi pembaca resensi belum tahu hal-hal khusus tetapi mereka berminat pada segi-segi potensial yang diminati.

d. Resensi menggunakan judul (latar belakang) yang memberikan pengenalan pada fakta-fakta (identitas) antar lain 1. judul buku 2. Pengarang 3. Tahun terbit 4. Penerbit 5. Tempat penerbitan 6. Jumlah halaman 7. Ukuran buku 8. Harga

e. Memberikan klasifikasi macam/jenis buku yang diresensi misal cerpen, novel, biografi, atau genre lainnya.

f. Memberikan komentar unsur-unsur structural (kepengarangan, kelebihan, dan kekurangan)

g. Mengusahakan agar proporsi resensi dilakukan secara tepat yaitu bagian-bagian pokok/penting yang disampaikan.

h. Evaluasi resensi harus obyektif.

i. Meresensi hendaknya menggunakan eviden/bukti yang menopang missal dengan menngutip/halaman tertentu.

4. Nilai Buku

Buku yang baik akan terlihat pada keterpaduan organisasi, isi, bahasa dan teknik. Organisasi adalah kerangka buku hubungan antar bagian buku. Isi memperlihatkan detail atau hanya kesimpulan subyektif. Bahasa buku yang baik akan menggunakan bahasa standar/baku. Teknik yaitu berhubungan dengan perwajahan buku; tata letak (lay out), kebersihan cetakan, kejelasan huruf, serta ketelitian penulisan.

Bila keempat hal tersebut ada dalam buku kemungkinan buku tersebut akan sukses (best seller) di pasaran.

5. Manfaat Resensi Buku

Beberapa manfaat

  1. Bahan pertimbangan: Resensi buku bisa memberikan gambaran pada pembaca tentang sebuah buku. 
  2. Nilai ekonomis: Mendapatkan uang atau imbalan atau buku-buku yang diresensikan secara gratis dari penerbit jika resensi kamu muncul di media.
  3. Sarana promosi buku: Resensi buku biasanya dari buku baru yang belum pernah diresensikan sehingga bisa dijadikan sarana promosi buku baru tersebut.
  4. Pengembangan kreativitas: Makin sering menulis, makin pula terasah kemampuan kamu. Begitu juga dengan makin sering menulis resensi buku, makin terasah pula kreativitas kamu.

+++++ringkasan

1. Kualitas isi
2. Penampilan
3. Unsur-unsur / struktur penyajian
4. Bahasa
5. Manfaat bagi pembaca/masyarakat

Unsur Resensi
1. Judul resensi
2. Identitas buku yang diresensi
3. Pendahuluan(memperkenalkan pengarang,tujuan pengarang buku)
4. Inti/isi resensi
     * Pokok-pokok isi
     * Keunggulan buku
     * Kekurangan buku
5.  Penutup
    * Saran-saran yang mungkin ditambahkan dalam  isi buku dan keterbacaan
     
Identitas buku
1. judul buku
2. Penulis buku
3. Penerbit buku
4. kota terbit
5. tahun terbit
6. tebal buku

7. harga


Sumber Artikel Dari :http://www.info-asik.com

+++++++

Pernyataan yang menandakan kelemahan maupun kelebihan buku

1. Hampir tidak ada yang tercela dari buku ini, sayang  sampul tidak mencerminkan isi buku…

2. Mohon maaf ada kejanggalan dalam buku ini yaitu.....

3. Buku ini bagus namun perwajahan perlu diperhatikan

4. dan lannya.

 

 

 

 

 

Contoh Resensi

 

The Coke Machine, Kebenaran Kotor di Balik Minuman Ringan Favorit Dunia judul resensi


 foto sampul depan


Judul : The Coke Machine, Kebenaran Kotor di Balik Minuman Ringan Favorit Dunia

Penulis : Michael Blanding

Penerbit : Elex Media Komputindo

Terbit : 2011

Halaman : 420 Halaman

Harga : Rp. 99.800 identitas buku

 

Korporasi raksasa yang mendunia selalu memiliki dua wajah yang bertolak belakang Di satu sisi ia dapat tampil cantik, namun di sisi lain ia memiliki wajah buruk yang selalu ingin dirahasiakan.


Begitu juga dengan perusahaan minuman ringan bersoda The Coca Cola Company. Perusahaan yang telah mendunia ini dilaporkan memiliki sejumlah persoalan yang selama ini tidak diketahui oleh publik.

Buku yang ditulis oleh Michael Blanding ini menjelaskan bagaimana kemajuan perusahaan yang berdiri pada tahun 1892 itu bukan semata-mata karena kehebatan produknya, namun karena iklan. Pengantar dan kepengarangan

Iklan Coca Cola yang begitu hebat telah membentuk berbagai citra tentang Coca Cola. Tak ayal lagi, Coca Cola tidak hanya sekadar brand yang mendunia, namun juga sebuah kultur.

 

Sebagai sebuah kultur Coca Cola menjadi bagian dari keseharian, terutama orang-orang Amerika. Konsumsi Coca Cola pun menjadi sebuah simbol ataupun identitas masyarakat Amerika.

Hasilnya, lingkar pinggang orang Amerika kian membesar. Penelitian menunjukkan bahwa minuman soda yang ditambahkan pada porsi setiap kali makan, akan menambah kemungkinan kegemukan sekitar 60 persen (hlm. 90). eviden

Di samping itu, Coca Cola pun telah masuk dalam dalam ritus-ritus keagamaan dan praktik budaya. Masyarakat yang hidup di perbukitan Chiapas Highlands, Meksiko, misalnya, kini telah melibatkan “si kaleng merah” dalam ritual-ritual keagamaan, ia menjadi bagian dari pemujaan.

Hal ini menunjukkan bagaimana Coca Cola telah mengubah kode-kode dalam praktik ritual. Ia telah menjungkirbalikkan nilai-nilai otentik budaya lokal. Jika memang Coca Cola concern dengan keberlangsungan budaya lokal, seharusnya ia dapat mengendalikan ini.

Persoalan yang harus dihadapi Coca Cola adalah persoalan pelanggaran hak-hak asasi buruh. Ini terjadi di Columbia. Di negara ini sejumlah kasus yang berakhir pada kematian buruh pabrik Coca Cola, beberapa kali terjadi.

Tuntutan buruh untuk memperoleh hak-haknya ternyata tidak selalu mendapat respon positif. Bahkan Dalam buku ini disampaiakan justru perusahaan yang berusaha untuk menghancurkan serikat pekerja yang menuntut hak-haknya.

Malah, dilukiskan dalam buku ini adanya kemungkinan disewanya tentara bayaran untuk menghentikan gerakan serikat pekerja. Di negeri yang sama juga dilakukan montaje judicial atau jebakan pengadilan terhadap para aktivis serikat pekerja.

Masalah lain yang terus menyudutkan Coca Cola adalah pencemaran lingkungan. Dari India dilaporkan bahwa perusahaan minuman bersoda itu telah mencemari lingkungan. Mereka membuang limbah pabrik dengan seenaknya.

Limbah pabrik itu telah memperburuk kondisi lingkungan. Bahkan hewan-hewan peliharaan mati karena meminum air dari sungai yang tercemar. Keinginan untuk mengubah keadaan ini juga tidak kunjung muncul. ihtisar

Catatan lain tentang buku ini ialah, adanya ketidakberimbangan dalam menampilkan fakta mengenai Coca Cola. Hasilnya, buku ini terkesan sebagai black campaign terhadap perusahaan asal Amerika Serikat itu. Kelemahan buku

5. 
Sumber Artikel http://www.info-asik.com

E. Sumber

1.  Komposisi Gorys Keraf

2. Materi Dasar Pengajara Komposisi Bahasa Indonesia oleh Muchsin Ahmadi

F. Evaluasi

 

1. Portofolio

Carilah hasil resensi sebuah buku di media cetak. Gunting dan tempelkan pada selembar folio. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

a. Tulislah identitas buku.

b. Kemukakan kepengarangan yang ada disana.

c.  Carialh keunggulan buku.

d.  Kemukakan juga kelemahan buku.

e. Siapa yang disarankan membaca buku ini?

 

2. Bacalah sebuah buku yang paling Anda senangi, yang bermanfaat bagi kehidupanmu. Buatlah resensi sederhana. Hal-hal yang diungkap minimal antara lain identitas buku, kepengarangan, kelemahan, dan keunggulan buku.

 

3. Pendalaman

a. bidang apa saja yang dapat diresensi?

b. Keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang resensator?

c. Apa yang dimaksud resensi

d. Mengapa meresensi dapat memperluas pengethuan?

e. Hal-hal pokok apa saja yang perlu diresensi pada sebuah buku?

f. bagaimana langkah –langkh meresensi buku?

g. Apa perbedan antara meresensi dengan meringkas?

h. Mengapa meresensi dikatakan segai kegiatan intelektual?

i. Apa perbedan antara meresensi dengan apresiasi?

 

Rabu, 18 Maret 2015

Nilai-Nilai dalam Sastra Melayu Klasik

Menemukan Nilai-Nilai dalam Sastra Melayu Klasik

Standar Kompetensi
15. Memahami sastra Melayu klasik
Kompetensi Dasar
15.2 Menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik
Indikator
• Menemukan nilai-nilai dalam karya sastra Melayu Klasik
• Membandingkan nilai-nilai dalam sastra Melayu Klasik dengan nilai-nilai masa kini
• Mengartikan kata-kata sulit

Untuk memahami karya sastra Melayu klasik, akan lebih mudah apabila Anda memahami karakteristik dan strukstur unsur intrinsik sastra Melayu klasik. Oleh karena itu, sebaiknya Anda betul-betul memahami pelajaran sebelumnya. Agar lebih tuntas, gunakan kembali karya sastra Melayu klasik pada pelajaran sebelumnya tersebut. Dengan demikian, Anda dapat menganalisis karya sastra Melayu klasik secara tuntas.
Bacalah kelanjutan Hikayat Patani berikut.
Hikayat Patani
Hatta antara berapa tahun lamanya baginda diatas takhta kerajaan itu, maka baginda pun berputera tiga orang, dan yang tua laki-laki bernama Kerub Picai Paina dan yang tengah perempuan bernama Tunku Mahajai dan bungsu laki-laki bernama Mahacai Pailang.
Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Naqpa pun sakit merkah segala tubuhnya, dan beberapa segala hora dan tabib mengobati tiada juga sembuh. Maka baginda pun memberi titah kepada bendahara suruh memalu canang pada segala daerah negeri: barang siapa bercakap mengobati baginda, jikalau sembuh, raja ambilkan menantu.
Arkian maka baginda pun sangat kesakitan duduk tiada ikrar. Maka bendahara pun segera bermohon keluar duduk di balairung menyuruhkan temenggung memalu canang, ikut seperti titah baginda itu. Arkian maka temenggung pun segera bermohon keluar menyuruhkan orangnya memalu canang. Hatta maka canang itu pun dipalu oranglah pada segerap daerah negeri itu, tujuh hari lamanya, maka seorang pun tiada bercakap.
Maka orang yang memalu canang itu pun berjalan lalu di luar kampung orang Pasai yang duduk di biara Kampung Pasai itu. Syahdan antara itu ada seorang Pasai bernama Syaikh Sa'id. Setelah didengarnya oleh Syaikh Sa'id seru orang yang memalu canang itu, maka Syaikh Sa'id pun keluar berdiri di pintu kampungnya. Maka orang yang memalu canang itu pun lalulah hampir pintu Syaikh Sa'id itu.
Maka kata Syaikh Sa'id: "Apa kerja tuan-tuan memalu canang ini?"
Maka kata penghulu canang itu: "Tiadakan tuan hamba tahu akan raja didalam negeri ini sakit merkah segala tubuhnya? Berapa segala hora dan tabib mengobati dia tiada juga mau sembuh; jangankan sembuh, makin sangat pula sakitnya. Dari karena itulah maka titah raja menyuruh memalu canang ini, maka
Maka kata Syaikh Sa'id: "Kembalilah sembahkan kepada raja, yang jadi menantu raja itu hamba tiada mau, dan jikalau mau raja masuk agama Islam, hambalah cakap mengobat penyakit raja itu."
Setelah didengar oleh penghulu canang itu, maka ia pun segera kembali bersembahkan kepada temenggung seperti kata Syaikh Sa'id itu. Arkian maka temenggung pun dengan segeranya Pergi maklumkan kepada bendahara seperti kata penghulu canang itu. Setelah bendahara menengar kata temenggung itu, maka bendahara pun masuk menghadap baginda menyembahkan seperti kata tememggung itu. Maka titah baginda: "Jikalau demikian, segeralah bendahara suruh panggil orang Pasai itu."
Arkian maka Syaikh Sa'id pun dipanggil oranglah. Hatta maka Syaikh Sa'id pun datanglah menghadap raja.
Maka titah raja pada Syaikh Sa'id: "Sungguhkah tuanhamba bercakap mengobati penyakit hamba ini?"
Maka sembah Syaikh Sa'id: "Jikalau Tuanku masuk agama Islam, hambalah mengobat penyakit Duli Syah 'Alam itu."
Maka titah raja: "Jikalau sembuh penyakit hamba ini, barang kata tuanhamba itu hamba turutlah."
Setelah sudah Syaikh Sa'id berjanji dengan raja itu, maka Syaikh Sa'id pun duduklah mengobat raja itu. Ada tujuh hari lamanya, maka raja pun dapatlah keluar dihadap oleh menteri hulubalang sekalian. Arkian maka Syaikh Sa'id pun bermohonlah kepada baginda, lalu kembali ke rumahya. Antara berapa hari lamanya maka penyakit raja itu pun sembohlah. Maka raja pun
mungkirlah ia akan janjinya dengan Syaikh Sa'id itu.
Hatta ada dua tahun selamanya, maka raja pun sakit pula, seperti dahulu itu juga penyakitnya. Maka Syaikh Sa'id pun disuruh panggil pula oleh raja. Telah Syaikh Sa'id datang, maka titah baginda: "Tuan obatlah penyakit hamba ini. Jikalau sembuh penyakit hamba
sekali ini, bahwa barang kata tuanhamba itu tiadalah hamba lalui lagi."
Maka kata Syaikh Sa'id: "Sungguh-sungguh janji Tuanku dengan patik, maka patik mau mengobati Duli Tuanku. Jikalau tiada sungguh seperti titah Duli Tuanku ini, tiadalah patik mau mengobat dia".
Setelah didengar raja sembah Syaikh Sa'id itu demikian, maka raja pun berteguh-teguhan janjilah dengan Syaikh Sa'id. Arkian maka Syaikh Sa'id pun duduklah mengobat raja itu. Ada lima hari maka Syaikh Sa'id pun bermohonlah pada raja kembali kerumahnya. Hatta antara tengah bulan lamanya, maka penyakit raja itu pun sembuhlah. Syahdan raja pula mungkir akan janjinya dengan Syaikh Sa'id itu.
Hatta antara setahun lamanya maka raja itu pun sakit pula, terlebih dari pada sakit yang
dahulu itu, dan duduk pun tiada dapat karar barang seketika. Maka Syaikh Sa'id pun disuruh panggil oleh raja pula. Maka kata Syaikh Sa'id pada hamba raja itu:
"Tuanhamba pergilah sembahkan kebawah Duli Raja, tiada hamba mau mengobati raja itu lagi, karena janji raja dengan hamba tiada sungguh."
Hatta maka (hamba)raja itu pun kembalilah, maka segala kata Syaikh Sa'id itu semuanya
dipersembahkannya kepada raja.
Maka titah raja kepada bentara: "Pergilah engkau panggil orang Pasai itu, engkau katakan padanya jikalau sembuh penyakitku sekali ini, tiadalah kuubahkan janjiku dengan dia itu. Demi berhala yang ku sembah ini, jikalau aku mengubahkan janjiku ini, janganlah sembuh penyakitku ini selama-lamanya."
Arkian maka bentara pun pergilah menjunjungkan segala titah raja itu kepada Syaikh Sa'id.
Maka kata Syaikh Sa'id: "Baiklah berhala tuan raja itulah akan syaksinya hamba: jikalau lain kalanya tiadalah hamba mau mengobat raja itu."
Hatta maka Syaikh Sa'id pun pergilah mengadap raja. Setelah Syaikh Sa'id datang, maka titah raja: "Tuan obatilah penyakit hamba sekali ini. Jikalau sembuh penyakit hamba ini, barang yang tuan kata itu bahwa sesungguhnya tiadalah hamba lalui lagi."
Maka kata Syaikh Sa'id: "Baiklah, biarlah patik obat penyakit Duli Tuanku. Jikalau sudah sembuh Duli Tuanku tiada masuk agama Islam sekali ini juga, jika datang penyakit Tuanku kemudian harinya, jika Duli Tuanku bunuh patik sekalipun, ridhalah patik; akan mengobat penyakit Tuanku itu, patik mohonlah."
Maka titah raja: "Baiklah, mana kata tuan itu, hamba turutlah."
Setelah itu maka raja pun diobat pula oleh Syaikh Sa'id itu. Hatta antara tiga hari lamanya maka Syaikh Sa'id pun bermohon pada raja, kembali kerumahnya. Hatta antara dua puluh hari lamanya maka penyakit raja itu pun sembuhlah.
Sebermula ada sebulan selangnya, maka pada suatu hari raja semayam di balairung diadap oleh segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka barang siapa bercakap mengobati raja itu, jikalau sembuh penyakitnya, diambil raja akan menantu." titah baginda: "Hai segala menteri hulubalangku, apa bicara kamu sekalian, karena aku hendak mengikut agama
Islam?"
Maka sembah sekalian mereka itu: "Daulat Tuanku, mana titah patik sekalian junjung, karena patik sekalian ini hamba pada kebawah Duli Yang Mahamulia."
Hatta setelah raja mendengar sembah segala menteri hulubalangnya itu, maka baginda pun terlalulah sukacita, lalu berangkat masuk ke istana.
Setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun menitahkan bentara kanan pergi memanggil Syaikh Sa'id, serta bertitah pada bendahara suruh menghimpunkan segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka baginda pun semayam di balairung diadap oleh rakyat sekalian. Pada tatkala itu Syaikh Sa'id pun datanglah menghadap raja diiringkan
oleh bentara. Setelah Syaikh Sa'id itu datang maka raja pun sangatlah memuliakan Syaikh Sa'id itu. Maka titah baginda: "Adapun hamba memanggil tuanhamba ini, karena janji hamba dengan tuanhamba ini hendak masuk agama Islam itulah."
Setelah Syaikh Sa'id mendengar titah raja demikian itu, maka Syaikh Sa'id pun segera mengucup tangan raja itu, lalu dijunjungnya. Sudah itu maka diajarkanlah kalimat syahadat oleh syaikh, demikian bunyinya: "Asyhadu an la ilâha illa l-Lâh wa asyhadu anna Muhammadan rasulu lLâh."
Maka raja pun kararlah membawa agama Islam. Setelah sudah raja mengucap kalimat syahadat itu, maka Syaikh Sa'id pun mengajarkan kalimat syahadat kepada segala menteri hulubalang dan rakyat yang ada hadir itu pula.
Telah selesailah Syaikh Sa'id dari pada mengajarkan kalimat syahadat pada segala mereka itu, maka sembah Syaikh Sa'id: "Ya Tuanku Syah 'Alam, baiklah Tuanku bernama mengikut nama Islam, karena Tuanku sudah membawa agama Islam, supaya bertambah berkat Duli Tuanku beroleh syafa'at dari Muhammad rasul Allah, salla lLâhu alaihi wa sallama diakirat jemah."
Maka titah baginda: "Jikalau demikian, tuanhambalah memberi nama akan hamba."
Arkian maka raja itu pun diberi nama oleh Syaikh Sa'id, Sultan Isma'il Syah Zillullâh Fi l'Alam. Setelah sudah Syaikh Sa'id memberi nama akan raja itu, maka titah baginda: "Anak hamba ketiga itu baiklah tuanhamba beri nama sekali, supaya sempurnalah hamba membawa agama Islam."
Maka kembali Syaikh Sa'id: "Barang bertambah kiranya daulat sa'adat Duli Yang Mahamulia, hingga datang kepada kesudahan zaman paduka anakanda dan cucunda Duli Yang Mahamulia karar sentosa diatas takhta kerajaan di negeri Patani Dasussalam."
Arkian maka Syaikh Sa'id pun memberi nama akan paduka anakanda baginda yang tua itu Sultan Mudhaffar Syah dan yang tengah perempuan itu dinamainya Sitti 'A'isyah dan yang bungsu laki-laki dinamainya Sultan Manzur Syah. Setelah sudah Syaikh Sa'id memberi nama akan anakanda baginda itu, maka baginda pun mengaruniai akan Syaikh Sa'id itu terlalu banyak dari pada emas perak dan kain yang indah-indah. Hatta maka Syaikh Sa'id pun [pun]
bermohonlah pada raja, lalu kembali ke rumahnya di biara Kampung Pasai.
Syahdan pada zaman itu segala rakyat yang di dalam negeri juga yang membawa agama Islam, dan segala rakyat yang diluar daerah negeri seorang pun tiada masuk Islam. Adapun raja itu sungguhpun ia membawa agama Islam, yang menyembah berhala dan makan babi itu juga yang ditinggalkan; lain dari pada itu segala pekerjaan kair itu suatu pun tiada diubahnya.
Sumber: Hikayat Seribu Satu Malam

Setelah membaca karya sastra Melayu klasik tersebut, Anda dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Anda dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat tersebut dengan mempertimbangkan karakteristik dan unsur-unsur intrinsik yang telahAnda identiikasi sebelumnya.
Nilai-nilai yang dapat Anda temukan dalam karya sastra Melayu klasik dapat berupa nilai budaya, moral, dan agama. Nilai budaya yang dapat kita temukan dari karya sastra Melayu klasik pasti berhubungan dengan budaya Melayu. Begitu juga nilai moral pasti dipengaruhi adat yang berlaku di suku Melayu. Adapun nilai agama akan dipengaruhi agama Islam yang dianut sebagian besar bangsa Melayu. Nilai-nilai tersebut dapat Anda temukan apabila Anda membaca dan memahami karya sastra Melayu klasik tersebut.

Uji Materi
1. Temukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra Melayu klasik tersebut.
2. Bandingkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra Melayu klasik tersebut dengan nilai-nilai masa kini.
3. Temukan kata-kata sulit dari karya sastra Melayu klasik tersebut dan artikan. Anda dapat menggunakan kamus.
4. Diskusikanlah hasilnya dengan teman-teman Anda.

Kegiatan Lanjutan
1. Anda telah membuat kelompok pada pelajaran sewbelumnya. Kelompok yang sama yang akan akan mengerjakan tugas ini.
2. Gunakan juga karya sastra Melayu klasik yang telah diperoleh kelompok Anda. Namun, Anda juga boleh mencari karya sastra Melayu klasik yang lain.
3. Bacalah karya sastra Melayu klasik tersebut.
4. Temukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra Melayu klasik tersebut.
5. Bandingkan nilai-nilai itu dengan nilai-nilai masa kini.
6. Artikan kata-kata sulit yang ditemukan dalam karya sastra Melayu klasik tersebut. Gunakanlah kamus.
7. Sampaikanlah hasilnya di depan kelompok yang lain untuk mendiskusikannya.
8. Lakukan pengamatan terhadap hasil kerja kelompok yang lain dengan memberikan penilaian berdasarkan tabel penilaian berikut.
Penilaian Analisis Hikayat Patani
No Hal yang Dinilai Rentang nilai Nilai
1 Nilai-nilai dalam Hikayat Patani 0-2
2 Analisis terhadap nilai-nilai masa kini 0-4
3 Perbandingan nilai-nilai 0-4
Jumlah total

Jumat, 04 Oktober 2013

Menulis puisi baru

MENULIS PUISI
I. MODEL-MODEL PELATIHAN
a. TEKNIK AKROSTIK
b. TEKNIK FOTOGRAFI
c. TEKNIK MULTIPLIKASI
d. TEKNIK KAMUS
e. TEKNIK MABOK
f. TEKNIK TOMEL
g. TEKNIK MIMPI

Semua bertujuan untuk mengasah ketrampilan menulis puisi
a. Teknik akrostik (sandi asma)
Contoh puisi
Love
Lama sudah aku menantimu
Ombak laut menggulung rasa
Variasi hidup yang sejati
Erat mendekap dalam dada

b, TEKNIK FOTOGRAFI
Sebelum menulis melihat obyek nyata (asli, foto, lukisan, film)
Menenafsirkan, menulis
Contoh
KURSI
Kursi-kursi jadi rebutan
Bagai mie instan yang disebar
Di tengah orang-orang kelaparan
Duh, betapa rakusnya kekuasaan

c. TEKNIK MULTIPLIKASI
langit.......... berarak............. jiwa
luka......... meneteskan.............
...........cintaku ...........warna
merah ...............terbelah
di telapak .............malam.............

Menjadi ini
Langit HITAM berarak DALAM jiwa
luka  SUNYI meneteskan DARAH
SAMPAI cintaku  BERUBAH warna
merah DELIMA terbelah
di telapak TANGAN malam DURJANA
d. Teknik kamus
1. buka dan baca beberapa halaman kamus
2. gunakan kata-kata yang telah dibaca untuk membuat puisi

e. Teknik mabok
Asal menulis tanpa menghapus
Tanpa berpikir, langsung tulis yang ada di pikiran.

f. teknik tomel (waton ngomel)
Waton ngomel direkam
Ditransliterasi  ke dalam tulisan

g. Teknik Mimpi (BY)
1. sediakan alat tulis di tempat tidur.
2. bangun tidur, buatlah puisi yang diimpikan saat tidur.


II. PROSES KREATIF PENULISAN
Menunjuk pada kemungkinan menulis  puisi secara bebas sehingga hasil menulis puisi dapat didekati dari aspek teori, kriteria, dan konvensional puisi pada umumnya.

Pertama: Dengan menggambarkan obyek bagaimana mestinya.
Contoh
Di tengah keramaian Malioboro
Pengemis tua itu menadahkan tangan
Wajahnya pucat kebiruan
Tubuhnya kurus tak berdaya
Di balik kumal pakainya
Matanya merah penuh curiga
Pada setiap orang yang melintasinya

Kedua: Menuliskan obyek yang telah dipilih dengan mengubah secara
 Contoh perubahan lanjutan:
Di tengah keramaian Malioboro
Bagian dari Indonesia kita
Pengemis tua menadahkan tangan
Wajahnya pucat kebiruan
Tubuhnya kurus penuh luka
Bagai jutaan rakyat tak berdaya
Di balik kerakusan para penguasa

Ketiga: menghancurkan objek yang dipilih sehingga realitanya agak berbeda, perlu pendalaman/ pengalaman, dan pengimajian
Contoh perubahan lanjutan:
Di tengah peta Indonesiaku
Para pengemis tegak berdiri
Mengacungkan pisau belati
Bagai rakyat yang ditindih kekuasaan
Bergerak menuju istana
Menuntut keadilan bagi semesta
Kehidupan dan kemanusiaan
Keempat: melenyapkan objek dengan mengganti objek baru, berbeda denga obyek aslinya yanga pernah diamati.
Coba dibuat yaaa.
Selamat berpuisi

Selasa, 07 Mei 2013

UH X. SK 11 DAN 12

 

Soal X-2 SK 11 KD 11.1 dan 11.2
Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Sebagai sebuah sistem, maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan, kaidah, atau pola-pola tertentu, baik dalam tata bunyi, tata bentuk kata, maupun kalimat. Bila aturan, kaidah atau pola ini dilanggar, maka
komunikasi dapat terganggu. (Abdul Chair, 1998: 1)
Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan manusia bermasyarakat. Untuk berkomunikasi sebenarnya dapat juga digunakan cara lain, misalnya isyarat, lambang-lambang gambar atau kode-kode tertentu lainnya. Namun, dengan bahasa komunikasi dapat berlangsung lebih baik dan lebih sempurna.
Bahasa Indonesia sendiri yang mempunyai kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi negara di tengah-tengah berbagai macam bahasa daerah, mempunyai fungsi sebagai berikut: a) alat untuk menjalankan administrasi negara, b) alat pemersatu pelbagai suku bangsa di Indonesia, c) media untuk menampung kebudayaan nasional. (Abdul Chair, 1998: 2)
1. Rangkumlah wacana diatas dengan benar berdasarkan isinya.
Puisi adalah karya sastra yang khas penggunaan bahasanya dan memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik.
Susunan kata dalam puisi relatif lebih padat dibandingkan prosa. Kehadiran kata-kata dan ungkapan dalam puisi diperhitungkan dari berbagai segi: makna, citraan, rima, ritme, nada, rasa, dan jangkauan simboliknya. Sebagai alat, katakata dalam puisi harus mampu diboboti oleh gagasan yang ingin diutarakan penyair. Di samping itu, kata-kata puisi harus pula mampu membangkitkan tanggapan rasa pembacanya. Kebebasan penyair untuk memperlakukan
bahasa sebagai bahan puisi itu dalam istilah kesusastraan dikenal sebagai lisentia poetica. Istilah ini menyiratkan adanya semacam kewenangan bagi penyair untuk mematuhi atau menyimpangi norma ketatabahasaan. Pematuhan dan penyimpangan ini haruslah mempertimbangkan tercapainya kepuitisannya.
   2. Rangkumlah wacana diatas dengan benar berdasarkan isinya.

                                                       
3Daftar Harga Barang di Pasar Majapahit
Nama Barang
Beras
Gula
Minyak Tanah
Kopi
Maret
Rp3.275
Rp4.100
Rp6.100
Rp5.750
April
Rp3.050
Rp4.175
Rp5.900
Rp5.750
Mei
Rp3.150
Rp4.300
Rp6.175
Rp5.290
Juni
Rp3.300
Rp4.150
Rp6.225
Rp5.800
Harga beberapa barang kebutuhan pokok tahun 2012
43.  Deskripsikan tabel di atas dengan benar dan lengkap .



Soal X-2 SK 12 KD 12.1, 12.2, 12
1.     Buatlah sebuah paragraf argumentasi yang tersusun atas pernyataan, alasan dan kesimpulan. Tema : Pencarian Ilmu (sedikitnya tujuh kalimat, tulis judul)
u   2. Buatlah sebuah paragraf argumentasi yang tersusun atas  kesimpulan dan alasan. Tema : Berbakti Kepada Orang Tua
.   3. Buatlah paragraf persuasif tema: Hidup Bersih, Hidup Sehat. Syarat; satu paragraf berisi sedikitnya tujuh kalimat, dan sesuai EYD.
.    4. Buatlah sebuah paragraf persuasif yang tersusun atas pernyataan, alasan dan bukti/data. Tema : Kemanfaatan Ilmu
.    5.  Buatlah pertanyaan dasar wawancara kepada penjual jamu gendong.
       6. Buatlah pertanyaan wawancara yang diawali dengan ilustrasi.
  1. Baca dan perhatikan kutipan wawancara berikut.

Bagaimana menurut Anda perkembangan kesenian tradisional dewasa ini? Kesenian tradisional dewasa ini boleh dikatakan sudah tergerus kemajuan zaman. Padahal, kesenian tersebut berkaitan erat dengan kebudayaan bangsa kita.
Apa kaitan antara kesenian dan kebudayaan bangsa?                                     
 Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang mau peduli terhadap kesenian tradisional. Kesenian tersebut merupakan warisan leluhur kita, nenek moyang kita. Jadi, harus kita upayakan kelestariannya.
Bagaimana dengan generasi muda?                                                                    
Dewasa ini, generasi muda lebih cinta pada kesenian-kesenian yang bersifat modern. Mereka sepertinya tidak terlalu ambil pusing, bahkan tidak tahu akan keberadaan kesenian tradisional.
Penyebabnya?                                                                                                          Penyebabnya banyak sekali: salah satunya ialah informasi budaya asing. terkadang, kita tidak pilih-pilih dulu, mana yang sesuai, mana yang tidak. Kebanyakan orang langsung menelan mentah.
Sebagai generasi muda, apa yang dapat kita lakukan?                                          
      Kita harus belajar mencintai kesenian tradisional sebagai aset budaya bangsa. Jika tidak, bersiaplah menghadapi kerusakan moral dalam tubuh bangsa majemuk ini
    8.  Tuliskan pokok-pokok penting dalam wawancara tersebut dalam bentuk paragraf. 
        9.  Buatlah pendahuluan teks pidato perpisahan kelas XII SMA N I Tempel (salam, sapaan, puji syukur, ucapan terima kasih).
10.    Buatlah kesimpulan dan penutup teks pidato perpisahan kelas XII SMA N I Tempel.