Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia XI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2015

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH



PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH
(LAPORAN PENELITIAN)

oleh
Mukhlish

1. Pengertian Karya Ilmiah

Karya ilmiah adalah sebuah tulisan yang berisi suatu permasalahan yang diungkapkan dengan metode ilmiah (Soeparno, 1997:51); karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar (Arifin, 2003:1). Artinya, pengungkapan permasalahan dalam karya ilmiah itu harus berdasarkan fakta, bersifat objektif, tidak bersifat emosional dan personal, dan disusun secara sistematis dan logis. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia ragam baku dengan memperhatikan kaidah EYD dan Pembentukan Istilah.

2. Sikap Ilmiah

Orang yang berjiwa ilmiah adalah orang yang memiliki tujuh macam sikap ilmiah. Ketujuah macam sikap ilmiah itu adalah (1) sikap ingin tahu, (2) sikap kritis, (3) sikap terbuka, (4) sikap objektif, (5) sikap rela menghargai karya orang lain, (6) sikap berani mempertahankan kebenaran, dan (7) sikap menjangkau ke depan (Brotowidjoyo, 1985:33-34).

3. Jenis Karya Ilmiah

Berdasarkan tingkat akademisnya, karya ilmiah dapat dibedakan atas lima macam, yaitu (1) makalah, (2) laporan penelitian, (3) skripsi, (4) tesis, dan (5) disertasi.  Makalah adalah karya tulis yang memerlukan studi, baik secara langsung maupun tidak langsung; dapat berupa kajian pustaka/buku, kajian suatu masalah, atau analisis fakta hasil observasi. Laporan penelitian merupakan sebuah tulisan yang dibuat setelah seseorang melakukan  penelitian, pengamatan, wawancara, pembacaan buku, percobaan, dan lain-lain. Adapun skripsi merupakan jenis karya ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa strata satu (S1) untuk memperoleh gelar sarjana; tesis ditulis oleh mahasiswa strata dua (S2) untuk memperoleh gelar magister; dan disertasi ditulis oleh mahasiswa strata tiga (S3) untuk memperoleh gelar doktor. Namun, untuk keperluan diklat ini, pembicaraan selanjutnya akan difokuskan pada penulisan laporan penelitian.









4. Sistematika Laporan Penelitian

Komponen-komponen penting dalam  laporan penelitian dan muatan tiap-tiap bagian disusun dengan urutan sebagai berikut.

(1)   Bagian awal
(a)    Halaman sampul/judul
(b)   Halaman Pengesahan (Jika diperlukan)
(c)    Abstrak
(d)   Kata pengantar
(e)    Daftar isi
(f)    Daftar tabel (jika ada)
(g)   Daftar gambar (jika ada)
(2)   Bagian pokok/utama
(a) Pendahuluan (berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian)
(b)   Kajian pustaka, kerangka teoretik, dan pengajuan hipotesis (jika diperlukan)
(c) Metode penelitian
(d) Hasil penelitian, pengujian hipotesis, dan pembahasan
(c)    Penutup (berisi simpulan, dan saran)
(3)   Bagian akhir
(a) Daftar pustaka
(b)   Lampiran-lampiran (jika ada)

5. Cara Penulisan Karya Ilmiah
5.1 Topik dan Judul

Kegiatan yang pertama kali dilakukan sebelum menulis adalah menentukan topik. Hal ini berarti bahwa harus ditentukan terlebih dahulu apa yang akan dibahas dalam tulisan. Dalam memilih topik perlu dipertimbangkan beberapa hal, yaitu:
(1) topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas,
(2) topik itu cukup menarik terutama bagi penulis,
(3) topik itu dikenal dengan baik,
(4)   bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai, dan
(5) topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.
      Contoh: “Usaha kecil dan menengah”  (terlalu luas)
                     “Pengembangan usaha kecil dan menengah” (terbatas)

Setelah diperoleh topik, dalam pelaksanaannya topik yang dipilih itu harus dinyatakan dalam suatu judul. Topik ialah pokok pembicaraan dalam keseluruahan karangan yang akan digarap, sedangkan judul adalah nama, titel, atau semacam label untuk suatu karangan. Pernyataan topik mungkin sama dengan judul, tetapi mungkin juga tidak, misalnya dalan karya sastra. Namun, dalam karya ilmiah judul harus tepat menunjukkan topiknya. Penentuan judul harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:




(1) judul harus sesuai dengan topik atau isi karangan,
(2) judul sebaiknya dinyatakan dalam bentuk frasa, bukan kalimat,
      Contoh: Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah di Yogyakarta ( baik)      
                    Usaha Kecil dan Menengah di Yogyakarta Perlu Dikembangkan (tidak baik) 
(3) judul diusahakan singkat,
(4) judul harus dinyatakan secara jelas.

5.2 Abstrak

Abstrak berisi intisari menyeluruh tentang isi tulisan, mulai dari judul, tujuan, metode, dan rumusan hasil/temuan. Abstrak ditulis dengan spasi tunggal. Untuk makalah, abstrak cukup satu paragraf, sedangkan untuk laporan penelitian terdiri atas tiga paragraf yang masing-masing memuat hal-hal di atas.

5.3 Kata Pengantar

Kata pengantar berisi puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang secara langsung atau tidak langsung berperan dalam kegiatan penulisan tersebut, dan permintaan kritik dari pembaca demi perbaikan.

5.4 Pendahuluan

Pendahuluan berfungsi menyadarkan pembaca akan pentingnya topik yang dibahas sehingga pembaca merasa perlu mengetahui topik itu lebih jauh dan pembahasannya. Oleh karena itu, dalam pendahuluan perlu dikemukakan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan,  dan manfaat penelitian.

5.5 Kajian Pustaka dan Kerangka Teoretik

Pengertian kajian pustaka dan kerangka teoretik itu berbeda. Kajian pustaka berisi pembahasan tentang kajian-kajian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian, sedangkan kerangka teoretik adalah seperangkat teori yang dipakai sebagai landasan penelitian. Oleh karena itu, pemecahan masalah penelitian harus berlandaskan pada teori dan kajian terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan permasalahan yang dibahas. Dari kajian itu didapatkan jawaban sementara atas permasalahan yang telah dirumuskan. Jawaban sementara tersebut biasa disebut hipotesis.

5.6 Metode Penelitian

Setelah kajian teoretik dirumuskan, langkah selanjutnya adalah merumuskan metode yang dipakai dalam penelitian. Metode penelitian tersebut meliputi apa atau siapa yang diteliti, bagaimana memilih sampel dari populasinya, data apa saja yang harus dikumpulkan dan dengan metode apa data itu dikumpulkan, teknik  analisis data yang manakah yang digunakan. 



5.7 Pembahasan

Bagian ini berisi analisis, pembahasan, dan pemaknaan data yang yang telah dikumpulkan. Kelengkapan data yang diperoleh sangat mendukung kesahihan hasil analisis. Dan, kecermatan analisis dan pemaknaan data sangat menentukan kualitas hasil kajian.

5.8 Simpulan

Simpulan merupakan hasil yang diperoleh dari pembahasan masalah sesuai dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu, simpulan harus menjawab permasalahan dan harus sesuai dengan tujuan.

6. Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Ketentuan-ketantuan yang harus diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah meliputi (1) penggunaan kertas, (2) teknik pengetikan, (3) penomoran, (4) penulisan sumber rujukan atau referensi, dan (5) penulisan daftar pustaka.

6.1 Penggunaan Kertas

Kertas yang dipakai adalah kertas HVS, berwarna putih, berat 80 gram, dan berukuran kuato (21.5 x 28 cm). Naskah ditulis pada satu sisi.

6.2 Teknik Pengetikan

1) Penggunaan Huruf
Naskah karya ilmiah diketik dengan huruf standar (Times New Roman 12) dan dengan pita atau tinta berwarna hitam.

2) Jarak Spasi
Jarak antarbaris adalah satu setengah spasi, kecuali abstrak, terusan nama bab, terusan nama judul tabel, terusan nama judul grafik/gambar, dan kutipan langsung yang lebih dari empat baris harus diketik dengan jarak satu spasi. Penulisan antarbaris pada setiap sumber pustaka diketik dengan jarak satu spasi, sedangkan penulisan antarsumber dalam daftar pustaka deketik dengan jarak dua spasi.

3) Batas Tepi Pengetikan
Batas tepi pengetikan adalah sebagai berikut.
(1) Tepi atas    : 4 cm
(2) Tepi bawah : 3 cm
(3) Tepi kiri     : 4 cm
(4) Tepi kanan : 3 cm





4) Penulisan Judul, Bab, dan Subbab
Penulisan judul, bab, subbab, dan anak subbab mengikuti ketentuan berikut ini.
(1)   Judul dan bab ditulis dengan huruf kapital semua, tidak diakhiri tanda baca apa pun, dan ditulis pada posisi tengah. Nomor bab ditulis dengan angka romawi.
(2)   Penulisan subjudul, subbab, dan anak subbab menggunakaan huruf kapital pada setiap awal kata kecuali kata tugas; dan dimulai dari batas tepi kiri dan tidak menggunakan garis bawah serta tidak diakhiri tanda baca apa pun.

5) Penulisan Paragraf  Baru
Penulisan paragraf baru dimulai setelah ketukan kelima dari tepi kiri atau dengan sistem lurus, tetapi harus diberi jarak spasi dua kali lipat.

6) Penulisan Nama
Penulisan nama pengarang, baik yang diacu dalam tubuh karangan maupun yang dicantumkan pada daftar pustaka mengikuti ketentuan berikut ini.
(1)   Nama pengarang yang diacu dalam tubuh tulisan hanya ditulis nama pokoknya. Misalnya, “Ahmad Sudargo”, yang ditulis hanya “Sudargo”.
(2)   Pada daftar pustaka, nama yang terdiri atas dua penggal nama atau lebih ditulis nama pokok (belakang), kemudian tanda koma dan diikuti nama depanya. Misalnya, “Ahmad Sudargo” penulisannya menjadi “Sudargo, Ahmad”.
(3)   Pengarang buku yang terdiri atas dua orang ditulis secara lengkap.
(4)   Pengarang buku yang lebih dari tiga orang ditulis nama pengarang pertama dan diikuti singkatan “dkk.”
(5)   Gelar kesarjanaan atau jabatan akademis tidak dicantumkan.

7) Penulisan Tabel dan Grafik
Penulisan tabel dan grafik mengikuti ketentuan berikut.
(1)   Penulisan tabel diupayakan jangan ganti halaman.
(2)   Nomor dan judul tabel ditempatkan simetris di atas tabel.
(3)   Nomor dan judul grafik ditempatkan simetris di bawah grafik.
(4)   Penulisan judul tabel dan grafik tidak diakhiri tanda baca apa pun.
(5)   Penulisan nomor urut tabel menggunakan angka Arab, sedangkan penulisan nomor urut grafik menggunakan angka Romawi.

6.3 Sistematika Penomoran

Sistematika penomoran mengikuti ketentuan berikut.
(1)   Penomoran bab, subbab, dan anak subbab dapat dilakukan dengan dua cara.

Cara Pertama
Sistem campuran, yakni dimulai dari angka romawi besar (untuk bab), huruf kapital (untuk subbab), angka arab (untuk anak subbab), huruf kecil (untuk anak-anak subbab), angka arab diikuti satu kurung, dan seterusnya. Contoh:





BAB III
            A.
            B.
1.
2.
a.
b.
1)
2)
a)
b)
C. dst.

Cara kedua
Sistem angka penuh, yaitu dimulai dari angka romawi besar (untuk bab), kemudian menggunakan angka arab semua, dan seterusnya.
Contoh:

BAB III
3.1
3.1.1
3.1.2
3.1.3
3.2
3.2.1
3.2.2
3.2.2.1
3.2.2.2
3.2.2.3
3.3 dst.

(2)   Penomoran halaman pada naskah utama menggunakan angka arab.
(3)   Penomoran halaman pelengkap, seperti halaman judul, halaman pengantar, dan halaman daftar isi menggunakan angka romawi kecil ( i, ii, iii, iv, v, vi, dst.) dan diletakkan pada bagian bawah tengah.
(4)   Penulisan daftar pustaka tidak diperbolehkan menggunakan nomor.
(5)   Penomoran bab, subbab dan seterusnya dalam daftar isi dituliskan di tepi sebelah kanan  sesuai dengan penulisan bab atausubbab yang bersangkutan.

6.4 Penulisan Sumber/Referensi

Penulisan sumber atau referensi bacaan yang dikutip dalam naskah karya ilmiah mengikuti ketentuan berikut.
(1)   Sumber bacaan yang ditulis di antara tanda kurung pada akhir kutipan terdiri atas nama pokok pengarang, tahun penerbitan, dan nomor halaman. Tanda koma digunakan di antara nama pokok dan tahun penerbitan, sedangkan tanda titik dua di antara tahun penerbitan dan nomor halaman.

Contoh:
Surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak yang lain (Bratawidjaja, 1995:5).
(2)   Apabila nama pengarang sudah disebutkan lebih dahulu, sumber yang ditulis di antara tanda kurung hanyalah tahun penerbitan dan nomor halaman yang diacu.
Contoh:
Menurut Bratawidjaya (1995:5) surat adalah satu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.

6.5 Penulisan Daftar Pustaka

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pustaka:
(1) daftar pustaka  tidak diberi nomor urut,
(2) daftar pustka disusun secara  alfabetis  (menurut abjad),
(3) gelar penulis tidak dicantumkan.

Daftar pustaka dapat berupa penulisan buku, penulisan artikel, dan penulisan publikasi lain.

1) Buku
Penulisan buku dalam daftar pustaka disusun mengikuti urutan: (1) nama pengarang, (2) tahun penerbitan,  (3) judul buku, (4) tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit. Di antara satuan itu dipergunakan tanda “titik”, kecuali di antara tempat penerbitan dan nama penerbit digunakan tanda “titik dua”. Judul buku dicetak miring dan setiap awal kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata depan.

Contoh penulisan buku dengan seorang pengarang
Keraf, Gorys. 1993. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Contoh penulisan buku dengan dua atau tiga pengarang
Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1992. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Contoh penulisan buku lebih dari tiga orang
Alwi, Hasan dkk. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

2) Artikel
Penulisan artikel dalam daftar pustaka menggunakan urutan (1) nama pengarang, (2) tahun penerbitan, (3) judul artikel, (4) nama majalah, (5) volume atau halaman dimuatnya artikel, (6) tempat penerbitan, dan (7) nama penerbit. Judul artikel ditulis di antara tanda “petik dua”; nama majalah dicetak miring; di antara satuan digunakan tanda “titik”, kecuali di antara nama editor dan nama majalah, di antara nama majalah dan volume atau halaman digunakan tanda “koma”; di antara tempat penerbitan dan nama penerbit digunakan tanda “titik dua”.

Contoh penulisan artikel dalam majalah
Madya, Suwarsih. 1994. “Penelitian Tindakan dalam Pendidikan”. dalam Diksi, No.4, Tahun II, halaman 67-82. Yogyakarta: FPBS IKIP Yogyakarta.

3) Penerbitan Pemerintah, Lembaga-Lembaga Ilmiah, dan Organisasi Lainnya
Penulisan daftar pustaka untuk penerbitan pemerintah, Lembaga-lembaga ilmiah, dan organisasi  lainnya menggunakan urutan: (1) lembaga yang bertanggung jawab atas penulisan dokumen, (2) tahun penerbitan, (3) judul tulisan, (4) tempat penerbitan, dan (5) nama penerbit.
Contoh:
Depdikbud. 1975. Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

7. Ragam Bahasa Ilmiah
Bahasa Indonesia ragam ilmiah adalah bahasa Indonesia yang digunakan oleh para cendekiawan untuk mengomonikasikan ilmu pengetahuan.

Ragam bahasa ilmiah tersebut memiliki sifat-sifat berikut.
(1) Ragam bahasa ilmiah termasuk ragam bahasa baku. Oleh karena itu, penulisan karangan ilmiah mengikuti kaidah-kaidah bahasa baku, yaitu dalam ragam tulis menggunakan ejaan yang baku (EYD), menggunakan kata-kata, struktur frasa, dan kalimat yang baku atau sudah dibakukan.
(2) Dalam ragam bahasa ilmiah banyak digunakan kata-kata istilah. Kata-kata tersebut digunakan dalam arti denotatif, bukan dalam arti konotatif.
(3) Dalam ragam bahasa ilmiah digunakan kalimat yang efektif, yaitu kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis, dan dapat menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
(4) Ragam bahasa ilmiah lebih berkomunikasi dengan pikiran daripada dengan perasaan; bersifat tenang, jelas, hemat, dan tidak emosional.
(5) Hubungan gramatik antara unsur-unsurnya, baik dalam kalimat maupun dalam paragraf, dan hubungan antara paragraf satu dan paragraf yang lain bersifat padu. Untuk menyatakan hubungan digunakan alat-alat penghubung, seperti kata-kata penunjuk, kata-kata penghubung, pengulangan kata atau frasa, penggantian, dll.
(6) Hubungan semantis antara unsur-unsurnya bersifat logis. Penggunaan kalimat yang bermakna ganda atau ambiguous harus dihindari.
(7) Penggunaan kalimat pasif lebih diutamakan karena dalam kalimat pasif peristiwa lebih dikemukakan daripada pelaku perbuatan.
(8) Konsisten dalam segala hal, misalnya dalam penggunaan istilah, singkatan, tanda-tanda, dan kata ganti diri.











Daftar Pustaka

Akhadiah, Sabarti., Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alwi, Hasan dkk. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arifin, E. Zaenal. 2004. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grasindo.

Brotowidjoyo, Mukayat D. 1985. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Akademika Pressindo.

Effendi, S. 1987. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Keraf, Gorys. 1993. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende: Nusa Indah.

Parera, J.D. 1982. Menulis Tertib dan Sistematis. Jakarta: Erlangga.

Ramlan,M. dkk. 1992. Bahasa Indonesia yang Salah dan yang Benar. Yogyakarta: Andi Offset.

Soeparno, Haryadi, dan Suhardi. 1997. Bahasa Indonesia untuk Ekonomi. Yogyakarta: Ekonisia.

Sugono, Dendi. 1997. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.

Minggu, 01 Juni 2014

XI.1.6.2 Memerankan Tokoh Pementasan Drama

B. Indonesia - KD 6.2 Memerankan Tokoh Pementasan Drama 

  • Standar Kompetensi: Memerankan tokoh dalam pementasan dramaKompetensi Dasar: 1. Menganalisis pementasan drama berdasarkan teknik pementasan 2. mengekspresikan perilaku dan dialog tokoh protagonis dan atau antagonis 
  • 3. MEMERANKAN DRAMA Memerankan drama berarti mengaktualisasikan segala hal yang terdapat di dalam naskah drama ke dalam lakon drama di atas pentas. Aktivitas yang menonjol dalam memerankan drama ialah dialog antartokoh, monolog, ekspresi mimik, gerak anggota badan, dan perpindahan letak pemain.
  • 4. Pada saat melakukan dialog ataupun monolog, aspek-aspek suprasegmental (Lafal, intonasi, nada atau tekanan dan mimik) mempunyai peranan sangat penting. Lafal yang jelas, intonasi yang tepat, dan nada atau tekanan yang mendukung penyampaian isi/pesan
  • 5. 1. Membaca dan Memahami Teks DramaSebelum memerankan drama, kegiatan awal yang perlu kita lakukan ialah membaca dan memahami teks drama.Teks drama adalah karangan atau tulisan yang berisi nama-nama tokoh, dialog yang diucapkan, latar panggung yang dibutuhkan, dan pelengkap lainnya (Kontum, lighting, dan musik pengiring). Dalam teks drama, yang diutamakan ialah tingkah laku (acting) dan dialog (percakapan antartokoh) sehingga penonton memahami isi cerita yang dipentaskan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kegiatan membaca teks drama dilakukan sampai dikuasainya naskah drama yang akan diperankan
  • 6. 2. Menghayati Watak Tokoh yang akan DiperankanMelalui menghayati yang sungguh-sungguh, kamu dapat memerankan tokoh tertentu dengan baik. Watak seorang tokoh dapat diekspresikan melalui cara sang tokoh memikirkan dan merasakan, bertutur kata, dan bertingkah laku, seperti dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Artinya, watak seorang tokoh bisa dihayati mulai dari cara sang tokoh memikirkan dan merasakan sesuatu, cara tokoh bertutur kata dengan tokoh lainnya, dan cara tokoh bertingkah laku.
  • 7. A. Menganalisis Pementasan DramaDalam mementaskan drama ada beberapa langkah-langkah yang dapat Anda ikuti, yaitu sebagai berikut: 1. Menyusun naskah atau memilih naskah drama yang sudah ada 2. Membedah naskah yang akan dipentaskan secara bersama-sama 3. Membaca keseluruhan naskah (reading) untuk mengenal masing-masing peran 4. Melakukan pemilihan peran (casting) sesuai kemampuan pemain 5. Mendalami peran yang akan dimainkan, antara lain dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:
  • 8. a. Penjiwaan terhadap karakter tokoh yang dimainkan b. Ekspresi yang digunakan harus sesuai c. Gerak-gerik harus tepat d. Lafal harus jelas e. Intonasi tepat f. Memerhatikan volume suara
  • 9. 6. Sutradara mengatur teknik pentas (blocking)dengan cara mengarahkan dan mengatur pemain7. Menjalani latihan secara lengkap, mulai dari dialogsampai pengaturan pementasan (running)8. Latihan terakhir sebelum pentas (gladi resik)9. Pelaksanaan pementasan dengan didukung:
  • 10. a. Tata Rias Tata rias dapat membantu pemain untuk membuatperubahan wajah sesuai dengan karakter yang dimau. Misalnya mengubah pemain yang masih muda menjadinenek-nenek. b. Kostum Pakaian atau kostum dapat mendukung pemain dalammemerankan karakter yang diinginkan. Contoh: Tokoh pengemis didukung dengan kostumcompang-camping, lusuh, dan kotor.
  • 11. c. Tata Panggung Tata panggung atau dekorasi mendukung latar cerita yangingin ditampilkan. Pada teknik tata panggung untuk mendukung latar/setting cerita biasanya jugaditopang dengan seni tata lampu (lighting) d. Tata Bunyi Tata bunyi biasanya membantu menggambarkan situasiyang terjadi dalam pementasan drama. Misalnya terdengar bunyi deburan ombak beartisuasananya sunyi dan sejuk di tepi pantai.
  • 12. B. Mengekspresikan Perilaku dan Dialog Tokoh protagonis , dan antagonis atau tirtagonis• Protagonis adalah peran utama yang merupakan pusat atau sentral cerita• Antagonis adalah peran lawan , sebagai musuh atau penghalang tokoh protagonis yang menyebabkan timbulnya konflik• Tirtagonis adalah peran penengah , bertugas menjadi polerasi , pendamai / pengantar protagonis dan antagonis
  • 13. Untuk dapat mengekspresikan watak tokoh yang diperankan, seorang aktor membutuhkan alat ekspresi. Selain dialog, alat ekspresi lain yang dapat digunakan adalah lafal, intonasi, nada/tekanan, dan mimik/gerak-gerik. 1. Lafal Lafal adalah cara pengucapan bunyi bahasa, baik yang berupa kata, kelompok kata, maupun kalimat. Melalui lafal pemain drama dapat menyampaikan pesan. Untuk itu pemain harus mampu menjaga pelafalannya
  • 14. 2. Intonasi Intonasi adalah musik kalimat, yaitu ketepatan penyajian tingirendahnya suara nada. Intonasi membantu mengungkapkan ekspresi kejiwaan. Misalnya: Untuk ekspresi marah maka intonasi suara meninggi.3. Nada/Tekanan Nada/tekanan adalah keras lemahnya pengucapankata/kalimat. Penggunaan tekanan dimaksudkan untuk mementingkanbagian yang diberi tekanan.
  • 15. Cara penggunaan nada, adalah sebagai berikut: a. Tekanan keras diberikan pada bagian yangdipentingkan, yaitu dengan diucapkan lebih keras, sekaligus lebih pelan. b. Tekanan lemah dipentingkan pada bagian yangtidak dipentingkan, yaitu dengan pengucapan biasaatau lebih lemah dan kecepatannya biasa.
  • 16. Teknik Bermain DramaTeknik bermain (akting) merupakan unsur penting dalam seni peran. Berikut ini hal-hal yang sangat mendasar berkaitan dengan teknik bermain drama.1. Teknik MunculTeknik muncul adalah cara seorang pemain tampil pertama kali ke pentas yaitu saat masuk ke panggung telah ada tokoh lain, atau ia masuk bersama tokoh lain. Tentu, setelah muncul, pemain harus menyesuaikan diri dengan suasana perasaan adegan yang sudah tercipta di atas pentas. Kehadiran seorang tokoh harus mendukung perkembangan alur, suasana, dan perwatakan yang sudah tercipta atau dibangun.
  • 17. 2. Teknik Memberi Isi Kalimat ”Engkau harus pergi!” mempunyai banyak nuansa.Ucapan tulus mengungkap keikhlasan atau simpati,sedangkan ucapan kejengkelan atau kemarahan tentubernada lain. Nuansa tercipta melalui tekanan ucapan yangtelah dijelaskan di muka (tekanan dinamik, tekanan nada, dantekanan tempo).3. Teknik PengembanganTeknik pengembangan berkait dengan daya kreativitaspemeran, sutradara, dan bagian estetis. Denganpengembangan, sebuah naskah akan menjadi tontonanmemikat. Bagi pemain, pengembangan dapat ditempuhdengan beberapa cara, diantaranya
  • 18. 1.PengucapanPengembangan pengucapan dapat ditempuh dengan menaikkan – menurunkanvolume dan nada. Dengan demikian setiap kata, frase, atau kalimat dalam dialogdiucapkan dengan penuh kesadaran. Artinya, setiap pemain sadar kapan harusmengucap dengan keras-cepat-tinggi atau lembut-lambat-rendah.2.GesturePengembangan gesture dapat dicapai dengan lima cara. Setiap cara, tentu saja, tidakdapat dipisah-pisahkan sebab saling melengkapi dan menyempurnakan.(1) Menaikkan posisi tubuhMenaikkan posisi tubuh berarti ada gerakan baik dari menunduk-menengadah, tanganterkulai menjadi teracung, berbaring-duduk-berdiri, atau berdiri di lantai-kursi-meja.(2) BerpalingBerpaling mempunyai arti yang spesifik dalam pengembangan dialog: tubuh ataukepala. Perhatikan dialog berikut ini dan tentukan pada bagian mana kita harusberpaling.”Aku iri denganmu. Kadang-kadang aku berpikir untuk keluar saja, lalu buka bengkeljuga. Tidak ada hierarki. Tidak ada rapat-rapat panjang.”
  • 19. 3) Berpindah tempatBerpindah tempat dapat terjadi dari kiri-kanan, depan-belakang,bawah-atas. Tentu, harus ada alasan yang kuat mengapa harusberpindah(4) GerakanGerakan anggota tubuh: melambai, ,mengembangkan jari-jari,mengepal, menghentakkan kaki, atau gerakan lain seturut denganluapan emosi. Ada tiga kategori melakukan gerakan: a) gerakandilakukan bersamaan dengan pengucapan kata, b) gerakan dilakukansebelum kata diucapkan, c) gerakan dilakukan sesudah kata diucapkan.(5) MimikPerubahan wajah atau mimik mencerminkan perkembangan emosi.Tanpa penghayatan dan penjiwaan tidak mungkinlah timbul dorongandari dalam atau perasaan-perasaan. Justru perasaan inilah yangmendasari raut wajah.
  • 20. 4. Menciptakan PeranTentu saja untuk menciptakan peran, pemain harus sadar bahwa iasedang ”memerankan sebagai……..” Artinya, seluruh sifat, watak, emosi,pemikiran yang dihadirkan adalah sifat, watak, emosi, dan pemikiran”tokoh yang diperankan”. Dengan demikian, seorang pemain harusberkemampuan menciptakan peran dalam sebuah pertunjukan.Hal-hal berikut dapat membantu untuk menciptakan peran:1.kumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan olehpemeran dalam pementasan2.kumpulkan sifat-sifat tokoh, termasuk sifat yang paling menonjol3.carilah ucapan atau dialog tokoh yang memperkuat karakternya4.ciptakan gerakan mimik atau gesture yang mampu mengekspresikanwatak tokoh5.ciptakan intonasi yang sesuai dengan karakter tokoh6.rancanglah garis permainan tokoh untuk mlihat perubahan danperkembangan karakter tokoh7. ciptakan blocking dan internalisasi dalam diri sehingga yangberperilaku adalah tokoh yang diperankan
  • 21. CONTOH SOALPerhatikan dialog drama berikut untuk menjawab soal nomor 1 dan 2!Ida : "Akhir-akhir ini banyak pekerja yang sakit, supaya tidak mengganggu kerja datanglah sore-sore."Ny. Ardi: "Tetapi engkau sendiri tampak tak begitu sehat, jangan memaksakan diri."Ida : (Cepat) "Ah, akus ehat, tidak apa-apa, Bu!
  • 22. 1. Karakter Ny. Ardi dalam dialog di atas adalah .... a. angkuh b. egois c. baik dan bijaksana d. lemah e. lemah dan ramah2. Bagian yang ditulis dalam kurung dalam drama tersebutadalah .... a. petunjuk lain b. prolog c. epilog d. monolog e. dialog
  • 23. 3. Perhatikan cuplikan drama berikut : Herman : Heh, cari barang rongsokan, ya ! Yanti : (terkejut) Ah, Herman, jadi terkejut aku ! Herman : jalan, kok menunduk saja, sedang mencari barang-barang bekas ? Yanti : Ah, ada-ada saja kamu. Masa iya jalan ku seperti orang mencari barang-barang bekas ? Kalau begitu, tolong, Her ambil keranjang rongsokan (Tertawa riang) hi....hi...hi....
  • 24. Sesuai cuplikan diatas, karakter Herman adalah... a. Suka menghina b. Suka bercanda c. Suka memuji d. Suka marah e. Suka melucu
  • 25. 4. Drama dikatakan baik, hidup dan menarik apabila.... a. Tata arstistik tetap dan mengesankan b. Alur cerita runtut dan mudah dipelajari c. Aktor atau aktris rupawan dan menarik d. Sutradara yang berpengalaman dan serba bisa e. Ada konflik yang menegangkan
  • 26. 5. Tangan di kepal, bibir terkatup rapat dan mata berlotot adalah ekspresi... a. Benci b. Dendam c. Marah d. Menahan amarah e. Jengkel
  • 27. TERIMA KASIH

Minggu, 08 September 2013

XI.1.6.1 Menganalisis Pementasan Drama dan Mengekspresikan Perilaku dan Dialog Tokoh

Standar Kompetensi: Memerankan tokoh dalam pementasan drama

Kompetensi Dasar: 1. Menganalisis pementasan drama berdasarkan teknik pementasan
                              2. mengekspresikan perilaku dan dialog tokoh protagonis dan atau antagonis


A. Menganalisis Pementasan Drama

     Pada pembahasan sebelumnya kita sudah membicarakan tentang unsur intrinsik drama dan sedikit mengamati contoh pementasan drama serta mendiskusikannya.



Dalam mementaskan drama ada beberapa langkah-langkah yang dapat Anda ikuti, yaitu sebagai berikut:

1. Menyusun naskah atau memilih naskah drama yang sudah ada
2. Membedah naskah yang akan dipentaskan secara bersama-sama
3. Membaca keseluruhan naskah (readingi) untuk mengenal masing-masing peran
4. Melakukan pemilihan peran (casting) sesuai kemampuan pemain
5. Mendalami peran yang akan dimainkan, antara lain dilakukan dengan beberapa cara berikut ini:

    a. Penjiwaan terhadap karakter tokoh yang dimainkan
    b. Ekspresi yang digunakan harus sesuai
    c. Gerak-gerik harus tepat
    d. Lafal harus jelas
    e. Intonasi tepat
    f. Memerhatikan volume suara

6. Sutradara mengatur teknik pentas (blocking) dengan cara mengarahkan dan mengatur pemain
7. Menjalani latihan secara lengkap, mulai dari dialog sampai pengaturan pementasan (running)
8. Latihan terakhir sebelum pentas (gladi resik)
9. Pelaksanaan pementasan dengan didukung:

   a. Tata Rias

       Tata rias dapat membantu pemain untuk membuat perubahan wajah sesuai dengan karakter yang dimau.
       Misalnya mengubah pemain yang masih muda menjadi nenek-nenek.

   b. Kostum

       Pakaian atau kostum dapat mendukung pemain dalam memerankan karakter yang diinginkan.
       Contoh: Tokoh pengemis didukung dengan kostum compang-camping, lusuh, dan kotor.

   c. Tata Panggung
 
       Tata panggung atau dekorasi mendukung latar cerita yang ingin ditampilkan. Pada teknik tata panggung
        untuk mendukung latar/setting cerita biasanya juga ditopang dengan seni tata lampu (lighting)

   d. Tata Bunyi

       Tata bunyi biasanya membantu menggambarkan situasi yang terjadi dalam pementasan drama.
       Misalnya terdengar bunyi deburan ombak bearti suasananya sunyi dan sejuk di tepi pantai.



B. Mengekspresikan Perilaku dan Dialog Tokoh


                   Untuk dapat mengekspresikan watak tokoh yang diperankan, seorang aktor membutuhkan alat ekspresi. Selain dialog, alat ekspresi lain yang dapat digunakan adalah lafal, intonasi, nada/tekanan, dan mimik/gerak-gerik.

1. Lafal

    Lafal adalah cara pengucapan bunyi bahasa, baik yang berupa kata, kelompok kata, maupun kalimat.
    Melalui lafal pemain drama dapat menyampaikan pesan.
    Untuk itu pemain harus mampu menjaga pelafalannya



2. Intonasi
    Intonasi adalah musik kalimat, yaitu ketepatan penyajian tingi rendahnya suara nada.
    Intonasi membantu mengungkapkan ekspresi kejiwaan.
    Misalnya: Untuk ekspresi marah maka intonasi suara meninggi.
3. Nada/Tekanan
    Nada/tekanan adalah keras lemahnya pengucapan kata/kalimat.
    Penggunaan tekanan dimaksudkan untuk mementingkan bagian yang diberi tekanan.
    Cara penggunaan nada, adalah sebagai berikut:
    a. Tekanan keras diberikan pada bagian yang dipentingkan, yaitu dengan diucapkan lebih keras, 
        sekaligus lebih pelan.
    b. Tekanan lemah dipentingkan pada bagian yang tidak dipentingkan, yaitu dengan pengucapan biasa atau
        lebih lemah dan kecepatannya biasa.
4. Mimik/Gerak-gerik
    Mimik ada tiga macam, yaitu: mimik, pantomim, dan pantomimik. Mimik adalah gerak-gerik wajah atau raut muka, pantomim adalah gerak-gerik tubuh, sedangkan pantomimik adalah gabungan dari mimik dan pantomim. Ketiga hal tersebut mendukung atau menunjang efektivitas pengekspresian watak. 
TUGAS KELOMPOK
1. Rencanakan sebuah pementasan drama kelompok
2. Pilihlah salah satu naskah (lakon) drama
3. Pilihlah sutradara dan pemain untuk mementaskan drama tersebut
4. Berlatihlah mementaskan drama tersebut di luar kelas
5. Pentaskan drama di depan kelas di hadapan kelompok lain
6. Kelompok lain bertugas menganalisis teknik pementasan 
CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN

Perhatikan dialog drama berikut untuk menjawab soal nomor 1 dan 2!
Ida     : "Akhir-akhir ini banyak pekerja yang sakit, supaya tidak mengganggu kerja datanglah sore-sore."
Ny. Ardi: "Tetapi engkau sendiri tampak tak begitu sehat, jangan memaksakan diri."
Ida    : (Cepat) "Ah, akus ehat, tidak apa-apa, Bu!
1. Karakter Ny. Ardi dalam dialog di atas adalah ....
    a. angkuh
    b. egois
    c. baik dan bijaksana
    d. lemah
    e. lemah dan ramah
    Kunci: C
    Pembahasan: dari kutipan dialog di atas tamapk jelas bahwa watak Ny. Ardi baik dan bijaksana
2. Bagian yang ditulis dalam kurung dalam drama tersebut adalah ....
    a. petunjuk lain
    b. prolog
    c. epilog
    d. monolog
    e. dialog
    Kunci: A
    Pembahasan: pesan yang ditulis dalam kurung pada naskah drama adalah petunjuk untuk pemeran drama tentang hala apa yang harus dia lakukan dalam adegan tersebut.